Sabtu, 03 November 2018

(Esai) Langkah Kreatif, Sebatas Semboyan Instan

Langkah Kreatif, Sebatas Semboyan Instan
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

            Sebagai pembelajar yang mengkaji bidang Pendidikan Bahasa Dan Sastra Indonesia, langkah kreatif dalam kegiatan menulis telah menjadi santapan lezat sehari-hari. Menulis juga masuk ke dalam empat dasar keterampilan berbahasa yaitu mendengarkan, berbicara, membaca, dan menulis. Dalam kamus besar bahasa Indonesia menulis memiliki arti, membuat huruf (angka dan sebagainya) dengan pena (pensil, kapur, dan sebagainya), sedang kreatif atau kreatifitas berarti memiliki daya cipta; memiliki kemampuan untuk mmciptakan. Jadi, dapat diartikan menulis kreatif adalah upaya untuk menciptakan sebuah naskah berupa huruf-huruf untuk menuangkan suatu gagasan.
            Meski bagi anak bahasa menulis seperti halnya seorang koki yang ahli dalam membuat masakan-masakan yang begitu lezat, namun seenak apapun masakan itu tentu ada orang yang tidak menyukainya, bahkan koki itu sendiri. Memang terlihat aneh bila ada koki yang tidak suka memasak, entah karena ia memang tidak bisa memasak, tidak suka masakannya, atau bahkan memiliki alergi terhadap masakan tersebut.
            Begitu pula yang terjadi pada anak-anak yang mengkaji bidang bahasa. Meski ini adalah makanan ia sehari-hari, namun perlu diketahui bahwa tidak semua orang bisa dengan mudah untuk  menulis. Menulis tentu memerlukan wawasan yang sangat luas, memerlukan kreatifitas dan juga gagasan yang cemerlang. Salah satu hal yang selalu membayang-bayangi seseorang dalam hal menulis adalah harus memulai dari mana? Kebanyakan orang kesulitan untuk mengawali narasi dalam tuangan kata-kata yang tentu harus asik untuk dibaca orang lain. Tidak mudah untuk membuat tulisan yang disukai orang lain. Padahal seseorang biasanya telah memberikan yang terbaik sebagaimana yang ia bisa dalam tulisan tersebut.
            Kesulitan dalam menuliskan narasi-narasi yang baik ini tentu juga dialami oleh anak bahasa, walaupun pada akhirnya ia telah bisa menyelesaikan tulisan dengan segala kekurangannya, namun belum tentu perhargaan sederhana hadir dalam setiap tulisan tersebut. hal ini lah yang sering menjatuhkan mental Mahasiswa bahasa. Seperti contoh seorang Mahasiswa yang membuat tulisan dengan susunan bahasa yang amburadul, Dosen tidak memberikan semangat serta arahan supaya lebih baik, biasanya Dosen malah cenderung mengejek tulisan tersebut. Sedangkan, apabila ada mahasiswa yang membuat tulisan yang begitu enak dibaca dengan susunan bahasa yang bagus Dosen malah meragukan keaslian dari karya Mahasiswa tersebut, bahkan tak jarang juga ada dosen yang memojokkan Mahasiswanya sampai ia mengakui karya tersebut benar-benar asli atau plagiarisme.
            Mental-mental pendidik yang seperti inilah yang saya kira menurun terhadap Mahasiswanya. Dapat dibandingkan dengan pendidik-pendidik dibarat, meski sejelek apapun sebuah karya yang telah dibuat oleh Mahasiswanya, seorang Dosen tetap akan menyajungnya, memang terlihat sangat sepele namun ini sangat berpngaruh bagi mental Mahasiswanya yang tidak akan pernah jatuh.
            Berbincang tentang langkah kraeatif Mahasiswa tentu tidak dapat dilepaskan begitu saja peran dari seorang Dosen. Begitu pula bagi saya yang begitu membutuhkan bimbingan Dosen menulis kreatif saya. Tentu saja bukan sekadar pembelajaran-pembelajaran formalitas atau tugas-tugas dengan tanggung jawab yang terlepas. Seorang Dosen harusnya memberikan kiat-kiat, teori atau apa saja yang dapat meningkatkan kualitas tulisan dari Mahasiswanya, bukan hanya memberikan tugas-tugas yang penting Mahasiswanya menulis dan menulis. Cara berpikir yang salah tentunya, bahkan dapat disebut sebagai kesahalahan yang sangat besar. Seperti yang telah saya bahas diawal tadi, jikalau tidak semua anak bahasa itu suka menulis.
            Sebuah sudut pandang yang dilakukan oleh Dosen seperti ini dapat melemahkan sistem pendidikan kita, karena fakta membuktikan jika hanya semboyan “yang penting menulis dan menulis” tidak dapat mengembangkan langkah kreatif Mahasiswa dalam menulis. Sebagian besar Mahasiswa menulis hanya untuk kebutuhan menuntaskan tugas, tulisan-tulisan yang dihasilkan pun tulisan instan yang tanpa gagasan, tanpa ide di dalamnya, karena mereka menulis pada batas waktu yang hapir usai. Dan hal seperti ini terlah terjadi secara berulang-ulang sehingga Mahasiswa tidak bisa mengembangkan kreatifitasnya dan lebih cenderung bosan dengan kegiatan menulis.
            Barang tentu, pengembakan model pembelajaran ataupun narasi-narasi pembangun kreatifitas perlu dilakukan oleh Dosen agar pembelajaran lebih mengasikan. Contoh saja seperti Mahasiswa diajak ke luar ruangan, ke taman, atau ketempat-tempat lainnya. Di sana Mahasiswa disuruh untuk mengawasi apa yang mereka lihat kemudian menyuruh untuk menarasikannya, tentu hal ini akan lebih mudah bagi Mahasiswanya dalam mengembangkan sebuah tulisan. kita tentu sebagai Mahasiswa sudah tidak lagi kagum dengan semboyan menulis kreatif jika pada kenyataanya tidak ada Dosen dengan pembelajaran yang kreatif. Andai saja hal ini dilakukan secara bersamaan mungkin menulis akan lebih mudah untuk dilakukan, dan menulis kreastif tidak hanya menjadi seebuah semboyan instan. Semoga.


Singgih Aji Prassetyo, Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia. Universitas PGRI Semarang.

(Puisi) Menalar Negeri

Menalar Negeri

Nalar bukanlah sekadar pertimbangan baik dan buruk
Nalar bersua ketika pengaruh akal sedang terpuruk
Nalar bukan lagi semboyan berpikir logis
Jika kami yang mencoba kritis justru dituding kelompok apatis
Menalar tidak lagi menjadi prinsip utama
Sebab kini siapapun bebas bersuara
Apalagi bagi mereka yang duduk berkuasa
Nalar dikucilkan demi politik kepentingan

kawan
Lihatlah bagaimana gemerlap panggung sandiwara
Yang dibungkus rapi dengan embel-embel empati
Sayang, mereka tak pernah belajar estetika bermain drama
Hingga banyak yang terpingkal geli, dikira anekdot politisi

kawan
Lihatlah bagaimana para kaum yang dianggap elit
Justru mengobral pemikiran yang semakin sempit
Opini menjadi jurus ampuh serangan balik
Membuat tontonan politik semakin menggelitik

Kini sudah saatnya kaum muda mengambil alih peran
Bukan lagi melalui pergerakan dijalan-jalan
Sebab keringat kita telah lama diasingkan
Hanya dianggap teriakan kaum pinggiran

Mari menyeru perlawanan dengan cara lebih elegan
Menalar negeri dengan karya-karya amatiran
Karena jiwa memberontak tetap milik kaum muda
Ketika bangsanya sudah tidak lagi berdaya

Semboyan cinta nalar menjadi salah satu solusi
Atas kegaduhan yang semakin menjadi-jadi
Tak usah mencari “kambing hitam”
Apalagi saling menghantam
Hingga keadaan semakin mencekam

Mari menalar
Karena nalar, negeri penuh cinta
Karena cinta, nalar kita ada


Singgih Aji Prasetyo
Pati, 25 Oktober 2018

(Cerpen) Mbah Mail, Penjaga Pesisir Utara Pantai Jawa

Mbah Mail, Penjaga Pesisir Utara Pantai Jawa
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

            Pak Nur Rahmat bergegas menyelusuri jalanan di desanya ketika sayup-sayup suara azan mulai terdengar. Sepeti biasa ia telah ditunggu oleh warga untuk menjadi imam di masjid desa. Fajar masih terbungkus oleh remang-remang kemilau, ayam seketika berhenti berkokok. Seolah sungkem, sendiko dawuh kepada pak Nur Rahmat yang sedang berjalan dengan tenang menuju masjid. Subuh itu suasana terasa damai di sebuah desa di pesisir pantai utara pulau jawa tersebut, atau dalam cakupan lebih luasnya di kota Pati.
Pak Nur Rahmat adalah seorang Polisi yang bertugas di Polres Pati. Selain sebagai Polisi ia juga dikenal sebagai seorang Kiai yang sudah tidak diragukan lagi kealimannya. Meski tidak memiliki pondok pesantren seperti Kiai pada umumnya, namun ia meliki banyak santri bahkan jumlahnya sampai ribuan. Pak Nur Rahmat adalah seorang pengamal tarekat Nasabandiyah,  jenjang keilmuan di atas Syariat bagi orang yang sedang mendalami ilmu agama. Tak mengherankan jika kajian-kajian agamanya begitu dalam dan mudah dipahami banyak orang.
            Sebagai seorang Polisi, tugas menjaga keutuhan Bangsa dan Negara menjadi kewajiban bagi pak Nur Rahmat. Karena pemahamannya atas ilmu agama, ia ditugaskan langsung oleh komandannya di lapas. Memberikan motivasi, pencerahan, dan ilmu agama kepada orang-orang yang berada di tahanan. Pak Nur Rahmat tak pernah sekalipun bersikap menggurui terhadap para tahanan. Seolah ada sisi lain pada dirinya yang begitu mudah untuk menundukkan para berandal-berandal yang berada ditahanan itu. Biasanya selepas para tahanan tersebut  bebas dari hukuman, mereka begitu dekat dengan pak Nur Rahmat, bahkan berlanjut belajar ilmu agama dan menyatakan diri sebagai santri dari pak Nur Rahmat.
            Seperti biasa, jika tidak sedang dinas pak Nur Rahmat keliling untuk mengisi pengajihan-pengajihan. Mulai dari pelosok-pelosok desa, hinnga tengah-tengah kota, dari pengajihan rumahan yang jamaahnya hanya puluhan orang, hingga ke pengajihan-pengajihan akbar yang dihadiiri puluhan ribu orang. Inilah yang membuat nama pak Nur Rahmat dikenal sebagai seorang Kiai besar, Kiai karismatik atas kedalaman ilmu agama yang dibuskus rapi dengan kekuatan kebangsaan.
            Awan tampak begitu tenang di langit. Begitu pun dengan udara, sunyi terbalut dengan gelapnya malam. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari, pak Nur Rahmat baru saja selesai mengisi pengajihan di sebuah desa, di selatan kota Pati. Di dalam mobil yang berjalan kencang menembus kedinginan, pak Nur Rahmat kelihatan sedang gelisah. Hatinya seperti diguncang oleh kegundahan.
“mas pelan-pelan mas, nanti kalau ada pertigaan di depan belok kiri ya!” kata pak Nur Rahmat kepada supirnya, sambil menunjuk sebuah desa di hadapan mereka.
“mohon maaf pak Kiai memangnya kita mau kemana?” Tanya sang supir. Ia memang sudah biasa memanggil pak Nur Rahmat dengan sebutan pak Kiai.
“kita mampir dulu ke rumah guru saya, mbah Mail”
            Sang supir pun hanya bisa diam sambil menuruti permintaan pak Nur Rahmat. “mbah Mail, siapa dia?” guman sang supir dalam hati. Sangat mengherankan memang, karena selama dua puluh tahun lebih ia menjadi supir pak Nur Rahmat, ia tak pernah tau jika pak Nur Rahmat memiliki guru bernama mbah Mail. Ia juga tak pernah sekalipun menghantarkan pak Nur Rahmat ke desa tempat mbah Mail itu tinggal.
“berhenti-berhenti, kita sudah sampai” tiba-tiba sang supir dikagetkan oleh pak Nur Rahmat.
“kamu mau tunggu di sini apa ikut masuk?” sambung pak Nur Rahmat
“saya di mobil saja pak Kiai” jawab sang supir.
“ya sudah kamu tunggu saja, sekalian kamu bisa istirahat dulu”
Pak Nur Rahmat bergegas turun dari mobil. Tepat dihadapannya sebuah rumah sederhana dari kayu jati milik mbah Mail.
“tok tok tok, Assalamualaikum” pak Nur Rahmat mengucap salam dengan pelan.
“Assalamualaikum” belum juga ada jawaban. Ia paham sekali, bangrangkali sudah pada tidur. Karena jam ditangannya telah menunjukkan pukul setengah dua malam.
“Assalamualaikum” pak Nur Rahmat mencoba mengucap salam untuk ketiga kalinya.
“Waalaikumsalam” terdengar jawaban samar-samar dari dalam. Namun bukan dari mbah Mail. Ya, itu suara Mustofa anak laki-laki mbah Mail yang barang kali bangun untuk salat tahajud. Sambil membukakan pintu Mustofa dikagetkan oleh sosok orang tinggi besar dan gagah berdiri di hadaapannya.
“owalah pak Kiai, monggo-monggo silahkan masuk, mohon maaf pak Kiai ada apa ya tengah malam kok datang kemari?” Tanya Mustofa dengan sedikit keheranan.
“tidak mengapa le, kebetulan saya baru saja selesai mengisi pengajihan di daerah sini, dan sekadar hanya ingin mampir bertemu dengan mbah Mail”
“mohon maaf pak Kiai, namun abah kalau tengah malam seperti ini tidak bisa diganggu pak Kiai”
“sebentar saja le, saya hanya sekadar ingin melihat mbah Mail”
“sekali lagi mohon maaf pak Kiai, benar-benar tidak bisa ini sudah pesan dari abah”
“saya paham le, namun saya benar-benar ingin bertemu. Saya juga telah menerima surat dari mbah Mail” sambung pak Nur Rahmat dengan agak memaksa.
            Mustofa pun mengalah, dibukalah pintu kamar mbah Mail. Setelah pintu dibuka betapa terkejutnya pak Nur Rahmat. Kamar yang hanya berukuran tiga kali empat meter itu dilihatnya seperti samudra yang begitu luas. Di tengah-tengahnya terlihat mbah Mail sedang bersujud di atas sajadah. Berjubah dan bersorban putih bersih, tepat di atasnya ada germerlap cahaya menembus langit, yang membuat pak Nur Rahmat tidak bisa mengeluarkan satu kata pun.
Sambil terombang-ambing pak Nur Rahmat mencoba mendekati mbah Mail. Dekat dan semakin mendekat, seketika persendian pak Nur Rahmat terasa rontok, urat-uratnya telah tak ada lagi, lemas tanpa daya. Sebab mbah Mail yang berada dihadapannya sedang bersujud tanpa denyut nadi. Yang sedang dilihat oleh pak Nur Rahmat hanyalah jasad dari mbah Mail, lalu di mana ruhnya? Ia pun semakin terkagum-kagum dengan gurunya itu. Setelah beberapa saat melamun pak Nur Rahmat pun mencoba mengingat-ingat isi surat dari mbah Mail. Surat yang ia terima melalui mata bisyaroh-nya.

le anakku Nur Rahmat
Laut sudah tak bisa dikendalikan. Amarahnya sudah tak dapat aku redam. Aku hanya seorang diri mencoba berdamai dengan para malaikat. Doakan aku le, demi anak cucu manusia pesisir pantai utara jawa.
Ismail bin Abdullah”
           
Jiwa pak Nur Rahmat semakin bergetar. Mungkin yang sedang dilakukan oleh mbah Mail itu adalah bentuk negosiasinya dengan para Malaikat. Pak Nur Rahmat hanya bisa meraba-raba pikiran. Tanpa tau apa yang sebenarnya telah terjadi. Ia memang tak pernah melihat mbah Mail berpakaian rapi seperti itu, apalagi berjubah dan bersorban. Mbah Mail hanyalah orang desa yang dalam kesehariannya justru dianggap nyeleneh oleh para tetangganya.
            Mbah Mail adalah sosok yang nyentrik. Dalam keseharian celana kolor warna hitam telah menjadi ciri khasnya. Ia tak pernah memakai baju atau lebih tepatnya selalu bertelanjang dada. Mbah Mail memang sosok yang misterius dengan segala kemistisannya. Namun meskipun begitu orang-orang yang bertamu dirumahnya adalah Kiai-Kiai besar yang dihormati banyak orang. Tak sedikit pula para berandal dan orang-orang jalanan yang datang bertamu. Semua disambut dengan baik oleh mbah Mail.
            Mbah Mail kecil dikenal sebagai anak yang sangat nakal. Oleh sebab itu lah ia ditaruh di pondok pesantren oleh orang tuanya untuk belajar ilmu agama. Namun mbah Mail tetaplah mbah Mail. Meski telah di pondok pesantren mbah Mail tetaplah anak yang nakal. Ia tak mau salat dan tak mau mengaji. Hingga Kiai pondok pun bingung dengan tingkah mbah Mail ini. Karena kesabarannya telah habis, Kiai pondok itu menghukum mbah Mail untuk bersujud di halaman pondok, dari habis salat isya sampai azan solat subuh. Sambil membaca surat Al-Fatihah tanpa terputus.
            Semalam penuh telah mbah Mail lalui, ketika itu azan salat subuh mulai berkumandang. Kiai pondok bergegas untuk ke masjid sambil berniat menghampiri mbah Mail yang masih bersujud di halaman pondok. Ketika kira-kira berjarak lima meter Kiai itu dikagetkan oleh cahaya yang turun dari langit dan menghantam tubuh mbah Mail. Kiai itu pun terpelanting hingga tak sadarkan diri. Sejak kejadian iu mbah Mail tiba-tiba hafal Al-Quran dan kitab-kitab besar lainnya yang dipelajari di pondok. Kiai pondok itupun terkagum dan berbalik belajar ilmu agama kepada mbah Mail.
            Mbah Mail memang aneh. Tak sedikit orang yang menganggap ilmu yang mbah Mail miliki itu adalah sebuah kesyirikan. Hingga kabar bahwa mbah Mail menyebarkan ilmu agama yang dibungkus oleh kesyirikan terdengar di telinga seorang Habaib asal Jawa Timur. Habaib ini memang dikenal tegas dalam upayanya memberantas penyebar kesyirikan. Sudah ratusan Kiai yang ia labrak karena dakwahnya yang bertentangan dengan syariat.
            Suatu ketika Habaib tersebut berkeinginan kuat datang ke rumah mbah Mail untuk melabraknya. Jarak dari Jawa Timur ke kota Pati yang jauh pun tidak menjadi halangan. Di rumah mbah Mail seolah telah mengetahui siapa yang akan datang. ia pun bersiap-siap. Sebuah balok kayu besar telah digenggamnya karena ia merasa telah mendapatkan sebuah tantangan.
Sesampainya di depan rumah mbah Mail, Habaib itu pun kaget, seperti ada sosok lain yang berada di hadapannya. Mbah Mail tidak terlihat sebagai sebuah wujud, Habaib itu hanya bisa memandang sebuah cahaya hinggaa matanya tidak kuat lagi. Sambil menangis dan bersujud di kaki mbah Mail Habaib itu pun segera meminta maaf. Begitulah mbah Mail dengan segala kelebihannya.
Satu minggu telah berlalu. Diambilnya remot oleh pak Nur Rahmat untuk menyalakan TV kantor. Dilihatnya berita di Indosiar. Gempa berkekuatan 9,3 skala Richter telah mengguncang perairan utara laut Sumatra. Gempa tersebut mengakibatkan Tsunami dengan tinggi gelombang mencapai 10 meter. Ratusan ribu orang dikabarkan menghilang. Berita ini menjadi duka Naasional bagi bangsa Indonesia.
            Setelah berita selesai, dimatikannya TV kantor tersebut. Dengan tergesa-gesa pak Nur Rahmat segera menuju ke rumah mbah Mail. Seperti biasa mbah Mail selalu mengetahui terlebih dahulu siapa yang akan datang bertamu. Belum sempat berucap satu kata pun pak Nur Rahmat telah di sambut oleh mbah Mail yang berbicara dengan dingin. Masih dengan ciri khasnya berkolor hitam dan bertelanjang dada, sambil menyulut rokok kretek mbah Mail berkata “ketahuilah le, para Malaikat tidak jadi menurunkannya di utara pantai jawa”.

-Singgih Aji Prasetyo, Mahasiswa Fakutas Pendidikan Bahasa dan Seni. Universitas PGRI Semarang. Penggagas Kelompok Kerja Teater Plat-K.

            

Rabu, 03 Oktober 2018

(Resensi) Gus Dur dan Gus Mus dalam Kacamata Kiai

Gus Dur dan Gus Mus dalam Kacamata Kiai
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

Judul Buku      : Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus
Penulis             : K.H. Husein Muhammad
Penerbit           : Noura Books
Tahun Terbit    : 2015
Tebal               : 179 halaman
ISBN               : 978-602-385-009-9

            Ungkapan wong kang soleh kumpol ono (orang yang berakhlak soleh dekatilah) tentu sudah tak asing lagi bagi kita, apalagi bagi santri dan ulama yang hidup di lingkungan pesantren. Bukan tanpa alasan, setiap kali kita duduk dan berbincang bersama alim ulama,  hal-hal sederhana yang terlontar selalu membawa kedalaman makna dan pelajaran. Demikian lah kesan pertama yang akan kita rasakan ketika membaca tuturan percakapan antara Gus Mus, panggilan akrab dari K.H Ahmad Musthofa Bisri, dan K.H. Husein Muhammad. Apabila kita sebagai orang awam saja dapat mengambil pelajaran yang mendalam ketika berbincang dengan para ulama, tentu perlajaran tersebut akan lebih dalam lagi ketika ulama dengan ulama yang bercincang dan yang menjadi perbincangan juga ulama yaitu K.H. Abdurrahman Wahid, yang akrab kita sapa Gus Dur. Buku ini ditulis oleh Kiai Husein Muhammad dalam bentuk perenungan sepanjang percakapannya dengan Gus Mus, karena kedekatan beliau berdua (Gus Mus dan Kiai Husein Muhammad) dengan Gus Dur, maka gambaran Gus Dur yang muncul dalam percakapan pun terasa sangat nyata sebagai sosok manusia seutuhnya.
             Kepulangan dari guru kita K.H Abdulrahman Wahid memang telah lama, namun pemikiran, sikap, pengalaman, hingga humornya akan senantiasa terus hidup di benak semua orang. Sosok nyentrik ini memang sangat langka dan tak tertandingi. Dia bukan hanya seorang kiai yang piawai berdakwah dengan berbagai referensi dalil dan mantan ketua organisasi terbesar sedunia yaitu Naahdlatul Ulama, namun juga mantan Presiden RI, sosok guru bangsa, budayawan, intelektual, pembela kaum minoritas, juga seorang yang dianggap punya pabrik lelucon pemecah kebekuan. Dengan keluasan ilmu bagai samudra, serta keberaniannya dalam mengemukakan pendapat, Gus Dur kerap memicu kontrovesi terutama dengan orang yang tidak bisa memahami pemikirannya. Tuduhan Liberalis, antek Yahudi, bahkan Kafir kerap diterimanya baik dari individu ataupun dari kelompok yang gagal paham atas pemikiran dan sepakterjang Gus Dur. Sedangkan berbalik dengan itu para pengagum dari beliau sering kali menganggap Gus Dur adalah seorang Wali atau kekasih Tuhan.
            Buku Gus Dur dalam Obrolan Gus Mus ini bukan hanya sekadar biografi dari orang yang biasa menggunakan jargon “gitu aja kok repot”, melainkan buku yang menceritakan kumpulan kisah dari sabahat terdekat Gus Dur, K.H. Ahmad Mustofha Bisri kepada K.H. Husein Muhammad. Sejatinya obralan yang terjadi antara keduanya hanya berlangsung sekitar satu jam, namun kepiawaian Gus Mus dalam menuturkan cerita serta kemahiran Kiai Husein Muhammad menafsirkan ke dalam bentuk tulisan, menjadikan buku ini tidak hanya menarik dalam sisi cerita namun juga sarat akan makna. Penggunaan gaya bahasa obrolannya ringan dan sederhana sehingga mudah untuk dipahami oleh pembaca.
            Gus Musa tau K.H. Musthofa Bisri adalah seorang pengasuh pondok pesantren besar di Rembang, Jawa Tengah serta Rais Syuriah PBNU. Keilmuan dan keluasan wawasan dalam beragama (islam) sudah tidak diragukan lagi. Ia juga dikenal sebagai guru bangsa, budayawan, ulama, penulis, penyair, dan pelukis. Gus Mus mungkin menjadi salah satu teman terdekat dari Gus Dur, kedekatan antara keduanya sudah terjalin sejak lama, lebih tepatnya ketika masih kuliah di Universitas Al-Azar, Mesir. Salah satu kedekatan antara mereka dapat pahami melalui cerita dari Gus Mus dalam buku ini, dikisahkan seminggu sebelum kepulangannya ke sang Khalik, Gus Dur secara khusus menyempatkan untuk berkunjung ke kediaman Gus Mus. Padahall kondisi kesehatan beliau saat itu sedang sakit. Seolah tau akan kepulangannya Gus Dur saat itu dengan kata-kata yang lirih dan bijak menitipkan Nahdatul Ulama kepada Gus Mus. “rencananya mampir ke sini hanya sebentar, eh jebulane (ternyata) sama kira-kira dua jam. Gus Dur tampak begitu sehat dan bergairah, meski konon masih dalam keadaan sakit” ujar Gus Mus dalam bercerita (hal 1-17).
            Memperbincangkan sosok Gus Dur tentu tidak akan gayeng tanpa mendaras kisah-kisahnya yang unik maupun perilakunya yang terkesan ganjil mengundang tawa. Namun humor cucu pendiri NU, Hadharatus Syaikh Hasyim Asyari, ini tentu bukan humor biasa, melainkan humor seorang jenius yang selalu menyiratkan makna. Salah satunya humor Gus Dur ketika menjawab persoalan gagasan Negara Islam. Sekitar tahun 1970-1980-an, Gus Dur diundang oleh Arief Budiman, sosiolog dan tokoh golput termasyhur era Orde Baru, menjadi pembicara utama dalam perbincangan ilmiah yang membahas tema seputar hubungan Islam dengan negara, kebangsaan, dan demokrasi. Seperti biasa, Gus Dur tampil dengan pemikiran-pemikirannya yang brilian. Satu per satu konsep yang pernah ada, pernah dibicarakan para pemikir dan cendekiawan Muslim dunia diurainya secara lugas disertai dengan penyampaian kekuarangan dan kelebihan masing-masing. Sayangnya, uraian Gus Dur berakhir dengan kesimpulan yang tidak memuaskan para peserta seminar.
Kebingungan yang dipuncaki oleh sebuah pertanyaan penting kepada Gus Dur “Adakah konsep atau sistem dan bentuk negara menurut Islam ?” Ditodong dengan pertanyaan demikian, Gus Dur bukannya bingung, dengan santai ia menjawab “Itu yang belum aku rumuskan”. (Halaman 82) Bagi sebagian orang, jawaban tersebut mungkin dianggap hanya sebatas candaan. Namun menurut kacamata kiai Husein jawaban tersebut sangat diplomatis. Gus Dur boleh jadi hendak mengatakan bahwa Islam tidak punya konsep politik dan kenegaraan. Islam hanyalah mengajukan nilai-nilai yang menjadi ruh dari seluruh sistem sosial, politik, ekonomi, dan kebudayaan.
Gus Dur dan Gus Mus adalah dua figur unik yang lahir dari rahim pesantren tradisional. Keduanya, meski dikenal sebagai tokoh agama yang mumpuni namun tidak membatasi diri terhadap aktivitas, yang bagi sebagian orang dianggap, di luar dunia pesantren. Interaksi mereka dengan berbagai lapisan masyarakat, komunitas, etnis dan agama secara langsung mampu memperkenalkan kultur dan identitas pesantren kepada masyarakat secara lebih luas. Demikian pula dengan kiai Husein, penulis buku setebal seratus tujuh puluh sembilan halaman ini. Meski tidak mengenakan gelar “Gus”, namun lelaki asal Cirebon ini berasal dari kultur yang sama dengan dua Gus di atas. Kiprahnya dalam penyadaraan kesetaraan gender sudah dikenal luas di Indonesia, bahkan dunia.


Singgih Aji Prasetyo, penggagas kelompok kerja Teater Plat-K. Mahasiswa Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni Universitas PGRI Semarang.

Selasa, 13 Maret 2018

(Puisi) Kekasih

Kekasih
(Ku puisikan namamu)
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

Indah berseri setangkap melur di taman
Terhampar mewangi melur setangkai
Sedang semak pun tak berani menyanding
Nilam nan harum meleburkan harapan
Atas sebuah permohonan

Yakinkanlah ! Aku masih di sini
Untukmu kupandang sendiri
Langit yang meringkuk di atas taman
Iba melihatku terjerat ilalang
Akankah kembali indah mewangi
Rupanya kembang sari telah terbagi

Ratapilah ! Sunyi tak selamanya berkecamuk
Ocehkanlah ! Rasa tak selamanya dalam peluk
Habis sudah kini aku nantikan
Melati putih telah kehilangan padan
Atas sebuah permohonan
Hingga pada doa aku coba melapangkan


Semarang
13 Maret 2018

Senin, 05 Maret 2018

(Catatan Bahasa) Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

1) Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Merdeka
Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai (dipakai) sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di gunakan (digunakan) dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.
Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan-peninggalan misalnya:
Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380
Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.
Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.
Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.
Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.
Dan pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:
Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisia aturan-aturan hidup dan sastra.
Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di indonesia (Indonesia)
Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar indonesia (Indonesia).
Bahasa resmi kerajaan.
Bahasa melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda indonesia (Indonesia) yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia (Indonesia) menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa indonesia (Imdonesia). (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).
2) Perkembangan Bahasa Indonesia Sesudah Merdeka
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar para pemuda ini di kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Unsur yang ketiga dari “Sumpah Pemuda” merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa indonesia (Indonesia) merupakan bahasa persatuan bangsa indonesia (Indonesia). Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan (dikokohkan) kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia di nyatakan (dinyatakan) kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 di sahkan (disahkan) sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 di sebutkan (disebutkan) bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia,(pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa indonesia (Indonesia) secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa indonesia (Indonesia) di pakai (dipakai) oleh berbagai lapisan masyarakat indonesia (Indonesia).
Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahas persatuan bangsa indonesia (Indonesia). Bahasa indonesia (Indonesia) di resmikan (diresmikan) penggunaannya setelah Proklamasi Kemerekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagi bahasa kerja. Dari sudut pandang Linguistik, bahasa indonesia (Indonesia) adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.
Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” di awali (diawali) sejak di canangkannya (dicanangkannya) Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “Imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap di gunakan (digunakan).
Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa indonesia (Indonesia) saat ini dari varian bahasa Melayu yang di gunakan (digunakan) di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa indonesia (Indonesia) merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Meskipun di pahami (dipahami) dan di tuturkan (dituturkan) oleh lebih dari 90% warga indonesia (Indonesia), bahasa indonesia (Indonesia) bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga indonesia (Indonesia) menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di indonesia (Indonesia) sebagai bahasa Ibu. Penutur Bahasa indonesia (Indonesia) kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampur adukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa Ibunya.
Meskipun demikian , bahasa indonesia (Indonesia) di gunakan (digunakan) sangat luas di perguruan-perguruan. Di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa indonesia (Indonesia) di gunakan (digunakan) oleh semua warga indonesia (Indonesia). Bahasa Melayu dipakai dimana-mana (di mana-mana) diwilayah (di wilayah) nusantara serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai didaerah-daerah (di daerah-daerah) diwilayah (di wilayah) nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa sanskerta (Sansakerta), bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.
Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu diwilayah (di wilayah) mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.
Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa di samping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri cultural, yang ke dalam menunjukkan sesatuan (kesatuan) dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.

Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu:
Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan. Sistem bahasa melayu (Melayu) sederhana, mudah di pelajari (dipelajari) karena dalam bahasa melayu tidak di kenal (dikenal) tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku2 yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu (Melayu) menjadi bahasa indonesia (Indonesia) sebagai bahasa nasional. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai (dipakai) sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

Senin, 12 Februari 2018

(Puisi) Percaya pada Tuhan

Percaya pada Tuhan
Sajak teruntuk kekasih

Masih sama seperti malam-malam dan fajarku yang telah berlalu
Bayang-bayang senyum dan tawamu
Selalu hadir terbungkus kenangan-kenangan semu

Kekasih, aku masih sangat ingat
Saat kita saling menggenggam perasaan yang sama
Berkidung tentang cinta yang fana
Tanpa ada rasa saling percaya
Hingga pada akhirnya kita terjatuh dalam perihnya duka dan luka

Ya, aku masih ingat betul
Saat kata-kata yang kau balut dengan tangis menjadi penjara pengekangku
Yang melemparkanku pada dinding-dinding tak bersekat
Hingga aku tak berdaya, walau hanya  sebatas mengusap air matamu
Atau bahkan air mataku sendiri
Hingga aku tak kuasa lagi, walau hanya sekadar mengelus lembut keningmu, mendekap hati, atau bercumbu dengan geliat di wajahmu

Kekasih
Ini aku, lelaki yang kau penjara dengan tangismu
Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun
Aku hanya duduk termangu, menyilangkan kaki, menatap dinding-dinding penjara, tanpa aku tau sedang apa dan dengan siapa kau di luar sana.
Kekasih,
Ini aku, lelaki yang kau belenggu dalam kata-katamu
Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun
Aku sandarkan diriku pada tembok penyekat ini, sembari berharap engkau datang membawa kabar, menjelaskan tentang semua kebohonganmu, kebohonganku atau bahkan kebohongan kita
Pada setiap sudut perasaan yang begitu menyiksa

Kekasih
Pada malam menjelang fajarku ini
Aku masih sama, hanya bersandar di tembok penjara ini
Di sini dingin, pengap, dan sempit
Bahkan aku terhimpit dan terjepit
Dengan perasaan yang menjerit-jerit
Ingin aku bersua denganmu di luar sana, tapi aku tak berdaya, tapi aku tak kuasa kekakasih.

Hingga terbitlah fajar
Aku mulai melihat mentari merayap masuk dari celah angin-angin penjaraku
Hembusanya begitu harum nan menyejukkan
Pekat ini tak asing lagi bagiku
Aku tahu ya aku tahu, itu wangi tubuhmu kekasihku
Sedang apa kau diluar sana? Kenapa kau tidak menyapaku?
Aku merindukanmu
Aku merindukan kata-katamu
Bahkan aku rindukan rengek dari tangismu, karena hanya pada saat itu lah hati kita begitu dekat dan menyatu

Dan tiba-tiba seekor burung datang, menerobos lubang angin-angin itu, mengepak-ngepakkan sayap yang begitu indah,
Menari kesana kemari, tersenyum kepadaku dengan begitu mesranya.

Wahai burung
Kenapa kau kemari, bukankah kau tau aku sendirian? di sini begitu dingin karena aku tak bisa lagi mendekap hangatnya cinta kekasihku

Wahai burung
Kenapa kau kemari, kenapa kau berwarna merah jambu? Bukankah kau tau tubuhmu itu hanya mengingatkanku pada senyum kekasihku

Wahai burung
Kenapa kau kemari, kenapa kau terus menari dan menari? Bukankah kau tau tarianmu itu nampak seperti getaran bibir tangis kekasihku

Wahai burung
Kenapa kau diam saja? Kenapa kau sama seperti kekasihku? Kenapa kau tak mau menyapaku?

Wahai burung
Ayo lah, ayo kabarkan kepadaku, kenapa kekasihku hanya diam bersandar di sisi luar tembok penjara? Bukankah dia yang menyuruhmu datang untuk menghiburku?

Sudahlah wahai burung
Aku juga akan diam seperti engkau diam dan diamnya kekasihku
Aku percaya wahai burung
Aku percaya pada cinta
Aku percaya pada kekasihku
Dan aku percaya pada Tuhan
Tuhan akan menyatukan kita,

Menyatukan dua hati yang dipisahkan oleh sekat tembok penjara.


Singgih Aji Prasetyo
Teater Plat-K,
Rembang 15 Desember 2017

Rabu, 08 November 2017

(Drama) Maklumat Wayang



Maklumat Wayang
karya : Singgih aji prasetyo


Musik opening (Pak Narto dan Bu Jumirah)
Bu Jumirah       : pak, pak asline sampean iki panjer wayang wong opo ora leh pak? Tamu wes semene akehe, suguhan wes arep entek kok hurong teko-teko wonge. Aku ngeneki isin karo tonggo-tonggo, wes kadong kesebar kabar sak kelurahan yen awak dewe iki arep dewe hajat nyunatno anak lanang seng ganteng dewe, nanggap wayang wong. Deloken go pak seng wes arep do delok wayang wong, wes podo kumpol semene akehe.
Pak Narto         : begini loh mah, mamah kan tau sendiri kalau papah ini orangnya tanggung jawab dan amanah. Jadi apa yang papah sampaikan ke mamah kemarin itu, sudah sesuai dengan realita dan fakta yang ada. La wong wes tak panjeri, iki loh kuwitansine diwoco, Tanggale yo wes pas, 28 Desember 2017, acara : nyunatno den bagus aliyando sucipto, desa mbeketel, kecamatan Lebanon, kabupaten rembang bangkit, panjer 250, tertanda Dalang Ki Mantep Sudarminto, Lo yo ceto to.
Bu Jumirah       : lah nyatane yo ora podo teko-teko pemaine, titennono nek kanti ora teko sampean seng bakal tak dadekke wayang, aku wes kadong isen karo tonggo-tonggo. Opo meneh yen tole Den Bagus Aliyando Sucipto kanti diisen-isen karo kanco-koncone, sampean kudu wani tanggung jawab.
Pak Narto        : sabar to mah sabar, sebentar lagi pasti sampai disini mah, sabar.

(Aliyando masuk)
Aliyando         : ha ha ha ha ha ha mah, mamah nenen
Bu Jumirah      : heh, la wong bocah wes gede wes disunatno barang la kok ijeh jalok nenen, opo ora isen iku didelok bu dosen?
Aliyando         : la endi wayange jare ameh ditanggapno wayang kok ora ono?
Bu Jumirah      : lah kono kuwi takon karo Bapakmu, seng panjer Bapakmu kok takone karo aku?
Aliyando         : to narto
Pak Narto        : heh, ngomong opo, ngomong karo wong tuo kok ra sopan.
Aliyando         : I am sorry pah, I am kilaf. Ee lah wayange endi?. Aku wes kadong ngomong karo konco-konco takon melekan kok, konco-koncoku karo guruku, tukang kebon, bu kantin, bakol pentol wes takon moro kabeh. Nek gak sido aku dak isen, nek mading sekolahan iku loh wes kadong tak templek’I pengumuman tonton dan saksikanlah pegelarang wayang wong dalam rangka tasyakuran sunatan aku.
Pak Narto        : cah bagus sabar, bapak iki wes rono wes panjer, paleng sedelok maneh yo wes tekan kene pemaine. Kamu itu harus latihan sabar sedari kecil, agar nanti kalau kamu sudah dewasa bisa menjadi orang yang bijaksana, tidak mudah emosi dan tidak mudah diprovokasi oleh provokator-provokator  yang dapat menimbulkan keadaan yang semakin tidak kondusif.
Aliyando         : elah pokok e wayang sak iki, aku emoh nek gak wayang
Pak Narto        : yo yo yo yo seng sabar, yo uwes tak telfonke disek dalange yen ngono. (telfon)
Aliyando         : lah lah lah kae dalange wes teko, ye ye dalange teko, ye ye dalange teko.

(music, dalang masuk)
Dalang             : assalamualaikum.
Bu Jumirah      : waalaikumsalam, piye to pak pak. Sampean niki ditanggap wong ora tanggung jawab, aku wes kadong isen, tamu semene akehe iki sebagian wes podo bali goro-goro nunggu sampean ora teko-teko. Suguhan-suguhan yo wes kanti ngene rupane, deloken go boges wes podo ngiler, nogo sari eo ngiler, arem-arem e mambu, krupuk mplempem, kopi kui lo kok iso kanti adem.
  Dalang            : iki wong opo opo yo yo, omong kok ora ono pedote blas. Ngeten lo buk, kulo niki wau supe, kulo kinten niki wau dereng tanggal 28 desember, rumaos kulo niki wau nembe tanggal 28 maret.
  Bu Jumirah     : la kok adoh men tanggal 28 desember karo 28 maret, tanggalan sampean niki mau gawekan mojopahit opo singosari.
  Dalang            : lah pripon, lah nek boten ngoten geh boten lucu ee.
  Pak narto        : lah iya kok pak, kita kemarin kan sudah ada MOU. Kita sudah sepakat, harga juga sudah deal, panjer sudah saya kasih, bapak saya cagerkan kok, cagerkan iki opo bahasa Indonesiane, bapak sudah saya arep-arep, eee lah kok malah tidak lek ndang datang. Bapak ini membuat saya galau.
Dalang             : njih, njih kulo ngaku salah. mpon pokoke mangke kulo maen seng apik, Untuk mengobati kekecewaan panjenengan dan para penonton, pokok e dijamin puas.
Bu Jumirah      : mpon monggo dang dikepyakke wayange
Dalang             : oh njeh siap (bu jumirah), wes sak iki ngene cah ayo dang disiapke kabeh perlengkapane, ayo sak iki dang maen!.
Wayang           : (bisik-bisik)
Gatot koto       : nganu pak dalang nuwun sewu, pakaianya tertinggal.
Dalang             : kalian ini bagaimana, lah kok ora katokmu kui seng keri?
Pergiwo           : lah niki bener iki pak dalang, ndi pakaiane.
Gatot koco      : lah niki seng salah, niki seng tugase gowo malah ora digowo. (cakil)
Pergiwo           : bener niku pak dalang niki seng salah.
Cakil                : lah kok iso aku iku piye, kita ini sama-sama wayang, kita punya hak dan kewajiban yang sama dihadapan ki dalang,  seharusnya kita ini saling mengingatkan bukan malah saling menyalahkan. Waata’awanuu alal birri wattaqwa walataawanu alal ismi wal udwan, dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Seharuse yen aku lali iku kuwe duweni kewajiban kudu ngelengke ojo malah nyalahke aku.
Pergiwo           : lah bener iku, cocok kui dalilmu.
Gatot koco      : kaet mau kok benar bener, kono bener kene bener, janjane kue iku melu sopo?
Pergiwo           : aku yo jelas melu seng bayar.
Dalang             : pokoknya saya tidak mau tau, sekarang juga kita main cari pakain sesuai dengan peran kalian masing-masing, kamu jadi gatot koco, kamu jadi pergiwo, dan kamu jadi cakil, cepat!.
Wayang           : siap.
Dalang             : ee bener, wes dipaido seng duwe omah, due anak buah ora ono seng beres dipasrahi kon gowo pakaian ae lali, awas tak potong bayarane, ora ngerti ta piye nek kene iki dalang. Hem cek cek,
Sigro kang bolo tumingal
Kajempo sawiyo wedalih
Risang mawegandrung
Sabarang kadulung ukir moyak-mayik dias balewor, o
                       Kocap kacarito, woten ing negoro pringgodani, raden gatot koco ngupadi ingkang garwo dewi endang pergiwo. Ingkang bade dipon boyong wonten ing dampar kencono, wismo panghargiyo. Raden gatot koco ngambah dergantoro.

Gatot koco (masuk)
Dalang             : iki opo iki, gatot koco kok ape blonjo
Gatot koco      : nuwun sewu pak daalang, niki mau geh sak entene. Dados geh dimaklumi wong pakaiane keri.
Dalang             : yo wes ra popo seng penteng bayaran. Yo wes ayo dilanjutke ceritane. Raden gatot koco sampon jumeneng wonten ing palagan, dugi titiwancinipun dewi endang pergiwo. Mijil wonten ing sasono. Dewi ending pergiwo metu ndok!.

Pergiwo (masuk)
Pergiwo           : jane aku wegah ngeniki wong kok iso diubel-ubel koyok lontong, diulek-ulek karo wedak koyo ngene, digencuni yo kliwat kabeh, ora sumbot karo bayarane.
Dalang             : kue iki janjane lapo, wong diwedak i ora tambah ayu kok malah tambah koyo barongan. Wes sak iki kono do jagong do omong-omongan kono!.
Gatot koco      : adikku di adikku, dewi endang pergiwo mreneo cah ayu nyerak o marang kakang, siro bakal tak pondong, tak boyong ono ing kesatrian pringgodani (dialek pergiwo)
Pergiwo           : kakang gatot koco, sejatosipun kulo puron panjenengan boyong wonten ing kesatrian pringgodani, ananging kakang, sejatosipun wonten setunggalipun tiang ingkang remen kalian kulo. (dialek gatot koco)
Dalang             : kuwalek, kuwalek, suttt kuwalek.
(pindah posisi)
Gatot koco      : o kuwalek, adikku di adikku
Dalang             : suttt, heh kuwalek
Gatot koco      : o ijeh kuwalek, adikku di adikku
Dalang             : heh seng kuwalek kuwi omongane dudu posisine, janjane kuwe iki mudeng ta ora leh yo yo?
Gatot koco      : o omongane to ngomong dong. adikku di adikku, dewi endang pergiwo mreneo cah ayu nyerak o marang kakang, siro bakal tak pondong, tak boyong ono ing kesatrian pringgodani.
Pergiwo           : kakang gatot koco, sejatosipun kulo puron panjenengan boyong wonten ing kesatrian pringgodani, ananging kakang, sejatosipun wonten setunggalipun tiang ingkang remen kalian kulo.
Gatot koco      : sopo iku diajeng, wani-wanine ganggu calon bojoku?
Pergiwo           : tiang puniko nun inggeh cakil kakang.

Cakil (masuk)
Gatot koco      : cakil opo bener kue seneng marang calon bojoku dewi endang pergiwo?
Cakil                : iyo iyo iyo, aku aku aku, seng seneng marang diajeng pergiwo iku aku aku aku. Ape lapo kowe, ape lapo kowe?
Gatot koco      : kok wani-wanine kowe ape ngoyok calon bojoku?
Cakil                : seng tak wedeni opo, tak wedeni opo?
Gatot koco      : eee atos cocotmu, lir kadiyo kandel kuletmu, koyo dene ora tedas papak palune pandai,
Dalang             : bumi gonjang ganjeng, langit ginjur-ginjur (kelap-kelap)
o, kemudian terjadilah perang yang dasyat antara gatot kaca dengan buto cakil. Siapakah yang akan jadi pemenangnya, kita saksikan bersama.
Gatot koco      : cakil bakal tak rampungi kue dino iki, cabut janggamu mati deneng aku.




(perang) gatot kaca mati
Cakil                : diajeng pergiwo sak iki gatot koco wes mati, gatot koco wes mati, sak iki ayo kawen karo aku.
Pergiwo           : cakil, aku mau menuruti apa yang jadi keinginanmu, tapi saya kasih satu permintaan.
Cakil                : opo iku diajeng?
Pergiwo           : aku meninginkan engkau membunuh orang yang akan menjadi penghalang cinta kita, yang selama ini diam-diam mencintaiku.
Cakil                : e ladalah sopo iku diajeng, sopo iku?
Pergiwo           : dalang kil.
Cakil                : e dalang mati deneng aku.

(perang) cakil mati
Dalang             : pergiwo sekarang sudah tidak ada yang menjadi penghalang cinta kita sayang, disini hanya ada aku dan kamu. sudikah kau menjadi istriku?.
  Pergiwo          : jangan salah dalang, karna sebenarnya masih ada satu lagi yang diam-diam menginginkanku.
Dalang             : siapa gerangan orang itu wahai sayangku?
Pergiwo           : dia adalah Narto, aku ingin kau membunuhnya dalang!.
Dalang             : narto ternyata kau musuh dalam selimut narto, kau menanggapku ternyata ini tujuanmu narto.
Pak Narto        : ha ha ha kalau memang iya kenapa? Setiap orang berhak mencintai, setiap orang berhak memiliki.
Bu jumirah      : papah jadi selama ini papah diam-diam ada wanita lain, jadi selama ini papah menghianati cinta mamah.
Pak Narto        : kakean omong (membunuh bu jumirah) wong wedok cerewet, dst. Dalang reneo majuo. Kita tentukan siapa yang berhak memiliki pergiwo. (aliyando turun)
Dalang             : narto, sekalipun engkau yang punya uang di sini, tapi sedikit pun aku tak gentar menghadapimu.
Pak Narto        : wahai dalang, sekalipun engkau yang mempunyai kekuasaan mengatur di sini, namun selangkah pun aku tak akan mundur menghadapimu.

Perang (mati semua)
Pergiwo           : lah kalau begini terus bagaimana, kesatriya mati, angkara murka mati,  yang pandai berkata-kata mati,  yang punya uang mati, yang punya kekuasaan mati, jadi apa gunanya aku hidup lagi. Kalau memang harus mati matilah semuanya.
Aliyando         : ha ha ha papah, mamah. Bangun pah bangun mah jangan diam saja, bangun jangan diam saja.
Ya Tuhan, kenapa semuanya harus seperti ini, kenapa bukan angkara murka saja yang mati. Kenapa para kesatriya pun ikut mati. Apakah ini akibatnya jika manusia-manusia sudah terlena dengan kepentingan-kepentingannya. Apakah ini akibatnya jika manusia-manusia terlalu terbuai oleh hawa napsunya, apakah ini akibatnya jika manusia-manusia begitu mudah untuk diadu domba.
Kini semuanya telah mati
(Ya Tuhan kini bumi-Mu telah mati dan tak akan pernah hidup kembali
Tanah-Mu telah mati, terlalu banyak ditanam aspal dan besi
Udara-Mu telah mati, dimana-mana asap dan polusi
Api-Mu telah mati, ia termakan oleh kobarnya sendiri
Air-Mu pun telah mati, tak bisa jernih seperti dulu lagi
Ya tuhan, kini semuanya telah mati
Para pemimpin telah mati, karena tak bisa menepati janji-janji
Rakyat pun ikut mati, dihantam oleh adu domba dan provokasi
Para petani telah mati, pupuk mereka diselundupkan sebagai upeti
Nelayan-nelayan telah mati, air laut mereka kini tak asin lagi
Aparat hukum telah mati, terlalu banyak menyelipkan amplop dispensasi
Para pengusaha telah mangkat, menumbuhkan konglomerat mengikis habis kaum melarat
Guru-guru telah mati, mereka terlampau baik mengajar tanpa menerima gaji
Pelajar-pelajar juga telah mati, hanya mengejar nilai tanpa dapat berekspresi
Anak-anak telah mati, terbujur kaku di depan televisi
Bahkan kiai-kiai kami pun telah mati, karna tak lagi dapat memberikan contoh kepada para santri).
Ya Tuhan, ampunilah kami dan mereka, ampunilah kami dan mereka, ampunilah kami dan mereka.

Tamat. . .