Senin, 26 Desember 2016

(Esai)



Estetika Seni Kampus


ESAI, yang ditulisVetiFatmawaticukupmenarikperhatian.Bagaimanatidaksetelahsayamembacaapa yang dituliskanolehvetifatmawatitidakubahnyalebihsepertimenceritakankembaliapa yang sudahialihatdaripadasebuahEsai. PenampilanseniteaterJakaTarubolehteaterGemaUniversitas PGRI Semarang (UPGRIS) padaselasakemarinmemangmerupakanhasilkreasidarimahasiswa.
Selainpenampilanseniteateracara yang berlangsung di Auditorium gedungpusat UPGRIS itujugamenampilkan Monolog baladasumarah yang akandibawakekendarisebagaiperwakilandariJawa Tengah dalamajangPorsemina. Namundalamtulisanvetifatmawatibelumsedikitpunmebahaspendapat-pendapat yang iagagas.
Dalamduniapendidikansenimemangmenjadihal yang seolah-olahdiwajibkan.Meskipun orang-orang seni yang berada di sekitarkitasaatinibelumtentu orang pendidikansemuanyanamunpadakenyataanyakarya yang sudahmerekahasilkansemuayaberbobotdanpenuhakanilmu.
Inilah yang mungkinbisadijadikanlataratau pun dasardalamperkembanganilmudanpembangunan.Ya, ilmu yang berkembangmelaluisenisayakiramempunyaihal yang berbeda yang bisamenarikperhatianbanyak orang.Begitujugadenganpembangunan, bukanpembangunandalamhalfisikatauinfrastruktur yang sayamaksudnamunpembangunankarakterdanintregritasdarianakbangsa yangsayakirasudahsedikitluntur.
Meskipunapa yang kitalihatpada orang-orang yang berkesenian di sekitarkitaseperti orang yang nyelenehtingkahlakunyaseringkaliberbedapada orang-orang padaumumnya. Tetapiitulahuniknyasenimeskipunsepertiitunamun orang yang mempunyaijiwasenisenantiasamenjagasikanyadanperilakunya yang adiluhung.
Dengandiadakanyaseni di kampusinitentunyakitasemuaberharapbahwaapa yang ditampilkanolehmereka-mereka yang berkesinianinibisamenjadikanpijakanataucontahbagisetiapmahasiswauntuksenantiasamenjagakarakterdirinyakhususnyadanjatidirikampuspadaumumnya.
Begitulahsenisemogasenantiasakitabisamemahamiestetikanyadansemogaseniselalujayadalamperadabanilmudanpembangunankarakteranakbangsa.

EstetikaSeniKmpus, olehSinggihajiprasetyomahasiswafakultaspendidikanbahasadanseniUniversitas PGRI Semarang.

(Surat)




Surat untuk dosen kekinian

Salam hangatbuatbapakSetia Naka Andriandosenpenulisan media massaku yang sangatkekinian.Alhamdulillah setelahkepergianBapakbeberapaharikemarin yang katanyamenjalankantugas Negara, saya di siniinginmemberitahukankepadabapakbahwasayadalamkeadaanbaik-baiksaja, sehatsentosa yang senantiasadalamlindungandanrahmat Allah SWT.
Senangsekalirasanyadalamhati yang labilinimendapatkansuratdaribapaksebagaibuktibagi kami ataskecintaandankasihsayangbapakkepada kami. Saya tau bahwabapaktidakrelaapabilasayasebagaimahasiswamendapatkandosakarenatidakmenjalanTholabulilmidengansebaik-baiknya . makadariitubapakmengirimkansuratcintainiuntuksayakerjakansebagailadangsayaberibadahdanmenjalankankewajibansebagaimahasiswa. Sejakdariitulahsayamemahamibahwakecintaanbapakkepadasayamembentangseluas Negara api.
Bapakdosenku yang mungkinsaatinisedangbersantairia di kamar hotel. Hari-harisaya di sinisungguhmenyenangkanbapak, bukankarenakosongnyakuliahbapak.Mungkinkalaubapakmendengarsayasenangkarenakuliahbapakkosongituhanyalahsekadarisusemata.Sayasangatsenangkarenakampuskitainisedangmengadakan agenda tahunan yang diselenggarakanolehFakultasBahasadanSeniyaitumemperingatibulanbahasa.Sepertihariinibapak, sayamenulissuratbalasaniniseusaimengikutiPuncakPeringatanBulanBahasadan Festival budaya.
Tentunyasayasangatsenangkarenatahuniniacaradiadakansengatberbedadengantahun-tahunsebelumnya. Yang biasanyamahasiswa di ajakkirab muter-muter terotoarkotahinggasampainegerikayangan. Yang sudahpastimelelahkanbagiteman-temansayayangmempunyaitubuhkekaragakberlebihanatautepatnyamontok.Tahuniniacaradiadakandalamruanganyang sejukdannyamandanmenyenangkan.Acaradiisiolehberbagaisenikreativitasdarimahasiswasendiri yang menonjolkanragambudayanusantara, yang menurutsayainilahkeunggulanlebihdariacaratahunsebelumnya.
Dalamacaraitusayajugaterkesimaolehteman-temansayasendiri yang ternyatamerekamemilikibakat-bakatseni yang luarbiasaataulebihtepatnyabiasa di luar.Takkusangkatakkudugaternyamerekahebat, heheheebukan Indonesia saja lo bapak yang hebat???.Dan yang lebihmenjadikansayasenangyaitubapakibudosen, bahkanbapakrektorikutberbaurbersama kami.Yang membuathati kami sangatterenyuh. Kami bernyanyi, berjogetdanbergembiraria yang membuatseakan-akantidakadabatasanpangkatdankekuasaan di antara kami. Akan tetapiitusemuatidaksedikit pun mengurangi rasa hormatsayakepaabapakibudosen, lebih-lebihkepadabapakrektor.
Itulahhari-hari yang sayaalamibeberapaharibelakanganinibapak.Untukkedepanyatentunyasayainginhari-harisayaakanlebihbaiklagi. Sayaberharap agar sayabisamerealisasikanpedomandalamhidupsayayaitumenjadimanusia yang bermanfaat.Bisamemberikanmanfaatbagisiapa pun, untukapapundanbagaimana pun keadaanya.KarenaRosullullah SAW. Telahbersabda  “sebaik-bainyamanusiaadalahia yang bisamemberikanmanfaatbagisesamanya”  setelahsayamemahamiinisayajugateringanakanpesandarisesepuhsaya yang mengatakan “le wonguripiku kudu duwepedomanUripKuiUrup”yang beliaujugamenjelaskanbahwakitahidupituharusmempunyaisinar tau urup yang nantikalaukamupunyasinarkamuakandiikutioleh orang lain yang mencarijalanpenerang. Kata-kata sesepuhsayainilah yang sayapegangkemudianapabilasayahubungkandengansabdaRosullullah SAW.Teryantamaknaurup di sinimempunyaiartisamadengakemanfaatan. Itulan yang sampaisekarangmasihssayajadikanpedomanhidup.
Bapakdosenku yang mungkinsedangbercakap-cakapdenganteman-temansastrawan di ibukota yang sedangpanasakanisusarapilkadai. Sebenarnyasayainginmenjelaskankepadabapakbahwasanyabapaktidakperlucemasataumasihpunya rasa tidakenakkepadasayakarenasudahmunuliskansuratinidanmewajibkansayauntukmembalasnya. Sebenarnyasayamenerimanyadengansenanghatibapak, barangtentudengansayamembalassuratdaribapakinisayajugadapatikutberpartisipasidalampenerapanbudayaliterasi. Yang tentunyaakanmemberikanbanyakemanfaatanbagisaya.
Menegnaimasalahmenbacabanyakbuku, membuatesai, mencari Koran, mengklipingkoranitutakusahbapakpikirkan. karenaitusemuasayajalanidengansenanghatisebagaiwujudnyatabahwasayaadalahmahasiswa yang budiman, berahlakulkarimah, tidaksombong, danrajinmenabung.
Bapakdosenku yang gemarminum kopi sepertisaya.Sayaingincurhatmasalahsecuildarisuratbapak yang mengajaksayauntukmemahamidirisayasendiri. Karenasmpaisaatinisayabelumjugapaham-pahambapak.Entahkarenaapasayajugatidaktahu, sayahanyamampuuntukmemahamidiriseorangIbu-ibuanaksatu yang naikmontormenyalakanlampusenkekiritapibeloknyakekanan. Barang kali sayaharusjadiibu-ibuduluyabapak?Untukbisamemahamidirisayasendiri.Ehh, lupa.Ternyatasayalaki-lakitulen.
Bapakdosenku yang setiapharimemberikanmasukan-masukandaninspirasibagisaya.Barangkalisayasudahkehabisan kata-kata untukmembalassuratdaribapak. Namunketahuilahbapakkalau yang sayatuliskan di sinihanyalahselilitdariperasaansaya yang mampusayatuliskandalambentuk kata-kata, selebihnyamungkinbiladapatsayaperlihatkanperasaanituakantampaksepertilautanapi yang membara. Sayasangatberterimakasihkepadabapakkarenasudahmemberikanmotivasibagisayauntukmenuliskansuratini. Sayajugamintamaafapabilaomongansayasudahkelantur.Yang lebihtepatnyabisadikatanngalor, ngidol, ngetan, ngulon.
Salam hangatbuatbapakdosenku di ujungpandangsana.

Hujangerimisakuberjalanpakaijashujan.
Jas hujanyabolongdarisisihinggatepi.
Bapakdosenku yang gantengdanmenawan.
Bilaberkenanmarilahkitabelajarsastralagi.

(SAP)

(Esai)



Apresiasi dan Karya yang tak dikenal


Salah satujeniskaryasastra yang takbanyak orang bisamembuatnyadenganindahdanapikadalahsyair.Dalamotakkitapastilangsungtergambarkantentang kata-kata indah, perumpamaan-perumpamaan, dan kata-kata kiastakkalakitamendengar kata syair.
Sajak, puisi, atau pun syairiniadalahbentukdariimajinasiataupemikirandaripenyair yang dituangkandalambentuk kata-kata.Biasanyapenyairjugamembuatkaryanyasebagaibentukdaricurahanhati.Inilah yang menjadisebabsetiapsyairpastimemilikiciritersendiri yang membedakansatudengan yang lainya.
Karya-karyadaripenyair-penyairinibukanhanyaenakuntukdibaca.Namunjugabanyakdijadikansebagaibahankajiandalamilmupendidikan.Contohnyasajabahan ajar puisidalammatapelajaranBahasa Indonesia di sekolah, kajiansastradalamperguruantinggi, bahkanjugaadajurusankhusus yang mengkajiilmusastrayaitu “Sastra Indonesia”.
Meskipunsyair-syairinibanyakmenjadibahanpengajaran.Namunbeberapatahunterakhirinitakbanyakpenyairdankarya-karyanya yang dikenalluasolehmasyarakatatau pun pelajar.Hal initerjadimungkinkarenakurangnyapengajaransyairdalampembelajaran.Biasanyadalamsastra guru lebihmemilihprosa yang berkaitandengankehidupansehari-hari.
Masalahlain yang mendasarihalinijugabiasanya guru lebihmemilihmemberikanbahan ajar yang hanyateori-teorisajatanpamenekankanpadapraktekatauapresiasikarya. Padahaltujuandaripembelajaransastraterutamadalambidangsyairsangatbaikuntukgenerasimuda.Merekaakanmengerticaramenuangkanpikiran, perasaan, danimajinasimelalui kata-kata.
Selainitu, anakjugaakanmenghargaisetiapkarya yang diciptakanoleh orang lain. Anakjugadapatmelihatfenomenadalammasyarakatdarisudutpandang yang berbeda yang sayayakinakanlebiharifjikadisajikandalambentuksyair.
Jikasastralebihbanyakdimasukkandalamkurikulumpembelajaranmungkinakanmempermudah guru untukmenambahkosa kata yang dimilikiolehanakdidiknya, danjugaanakakanmenghargaisetiapkarya orang lain. Sehinggaiaakanmengertibagaimanakaryaitu,tujuanyaapa, pesan yang disamsaikanapa, dan yang terpentingadalahsiapapenyairnya.
Inilahtentu yang kitaharapkanyaituwujudnyatadariapresisisebuahkarya.Biasanyapenyairitulebihsukakaryanyadiapresiasidandihargai orang laindaripadaiadikasihuangyang banyak. Dan jugakitaberharapgenerasi yang santundansalingmenghargai pun akandimilikioleh Indonesia dengancara yang sederhanaini.



*ApresiasidanKarya yang takdikenal, olehSinggihajiprasetyomahasiswafakultaspendidikanbahasadanseni, Universitas PGRI Semarang.


Rabu, 21 Desember 2016

(Puisi)

Sajak Orang Gila

Ketika aku masih waras/ aku selalu selalu berpikir untuk menjadi gila/
Mungkin enak/ ya bertelanjang dada dan bertelanjang pemikiran/
Menimang-nimang boneka dengan tembang anakku sayang/ atau menggelendeng kaleng-kaleng kosong yang sudah tetangga buang/
Aku tak pernah tau apa yang kau katakan/ aku hanya tertawa ha ha ha ha ha, saat kau bilang gila itu edan/

Kau bilang jangan gila/ karena kita sudah merdeka/ tetapi tikus-tikus pengerat kau pelihara demi menjaga nama dan kepentingan kelompokmu saja/

aku pun menjadi gila
Kau bilang jangan gila karena kita ini sudah sejahtera/ tetapi aku masih melihat nyawa-nyawa kecil berkeliaran di perempatan jalan dengan tangan menengadah penuh harapan/

aku pun semakin menggila/
Kau bilang jangan gila karena kita banyak yang menyayangi/ tetapi aku masih melihat anak kelas 3 sd gantung diri dengan sarung yang ia pakai untuk mengaji/

Gilaku semakin menjadi-jadi/
Kau bilang jangan gila karena kita hidup hanya untuk allah ya robbi/ tetapi aku masih mendengar berita mbah kyai kawin lagi dengan santrinya yang sudah ia hamili/

Bagaimana aku tidak gila/ saat kau bilang jangan gila karena hidup kita dilindungi negara/ tetapi aku masih melihat anak muda yang hamil di luar nikah itu/ diperkosa oleh ayah mertuanya/

Kau kembali menyuruhku jangan gila karena kita hidup dengan toleransi/ tetapi aku masih mendengar kelompok-kelompok apatis menyuarakan aspirasi dengan orasi-orasi kosong tak berisi/

Kau berbisik,
Aku mendengarkan,
kau diam,
Aku mengingatkan,
Kau berteriak,
Aku meredam,

Lalu ku pasrahkan semua pada keadaan/
malah kini kau yang edan/

Akhirnya aku pun tersadar saat kau bilang jangan gila karena kita berada di Indonesia/ aku pun tak jadi menjadi gila tetapi batinku semakin menggila/

hahahahahaha ternyata beginilah gila/ hahahaahahaha ternyata beginilah Indonesia/

Karya Singgih aji prasetyo. Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni. Universitas PGRI Semarang.

(Puisi)

Gadis di tepi jembatan

Malam yang remang-remang
itu/ aku melihat gadis cantik berjalan menyusuri tepi jembatan/ perawakanya yang semampai dan kulit bersih buat ku menduga ia putus asa karena perasaan/ aku khawatir bila ia ingin bunuh diri karena keadaan/ tiba-tiba ku mendengar "egg plung"/ ternyata ia lagi buang Harta terpendam yang ia makan/ aku kaget karena ia menatapku bagaikan melihat  sang mantan/ aku pun hanya tersenyum sambil menutup mata karena ia anunya kelihatan/

Oleh Singgih aji prasetyo. Penulis puisi mbeling. Penyair kelahiran pati Jawa tengah.

(Puisi)

Ya Rosullullah, Ungdhur Ilaina

12 Rabiul awal/
kembali ku teringat akan engkau wahai kekasih Allah/nabi penyampai Rahmat/ penyelamat gelap/
Pembawa umat dalam dunia yang selamat/

Wahai ya Rosullah/
lihatlah, bagaimana riuhnya santri-santrimu kini/
mereka sedang berkumpul di tepi belas kasihan syafaatmu/
Tangan-tangan kecil meraka/ dengan terampil menabuh nada dan irama/
Lihatlah, betapa sumpringah wajah mereka/
Nampak jelas dari pelipis hingga dahi/
Hanya kecintaan dan Kasih sayang yang ada dalam hati/
Teruntukmu wahai kekasih Allah ya robbi/

Ya rosullullah,
Santrimu ini hanya  lah insan yang tak lebih dari tanah-tanah kering/
Santri-santri mu ini hanyalah kumpulan umat yang kerdil/
Mereka tak punya apa-apa/
Mereka tak punya segalanya/
Tapi ijinkanlah wahai rosullullah kekasih ilahi/
Khusus di maulidmu yang kesekian kalinya ini/

Mereka, beserta ribuan malaikat yang mendampinginya/
Ingin melantunkan sepenggal keluh kesah/ keharibaanmu wahai rosullillah/

Shalaatullaah Salaamul laah ‘Alaa Thaaha Rasuulillaah
Shalaatullaah Salaamulleah ‘Alaa Yaa Siin Habiibillaah
Tawassalnaa Bibismi llaah Wabil Haadi Rasuulillaah
Wakulli Mujaahidin Lillaah Bi Ahlil Badri Yaa Allaah

Ya rasullullah,
Maafkan santrimu yang begitu cengeng dan tak kuasa menahan air mata/
Yang tak kuasa menahan rindu dalam duka yang kian menyapa/

Ya Rosulullah, hari ini kembali aku teringat, akan risalahmu yang mulia/kecintaanmu kepada umat tiada batasnya/ bahkan saat engkau sedang limbung/ terbaring lemah dengan keringat membasahi kening dan pelepah kurma/ dan malaiaktul maut datang bertamu dengan kerendahanya/ engkau malah asik bertanya kepada jibril hak mu diakhirat kelak/ jibril pum menjawab bila surga/ siap menerima engkau dari mana saja/
Tapi itu tidak membuatmu bahagia/ dan engkau kembali bertanya kepadanya/ kabarkan kepadaku wahai jibril, bagaimana nasib umatku kelak/

Ya rosullulah, Muhammad utusan Allah/ bagaimana aku tidak kaku dan tertunduk/ tak sanggup ku menampung akan Cinta dan kasihmu yang begitu dalam/

Dan saat detik-detik itu pun tiba/
Tak kala izroil sedang menjalankan tugasnya/ perlahan-lahan ia menarik ruh dari tubuhmu/ terlihat bagaimana tubuhmu bersimbah peluh/ bibirmu bergetar sambil terus berkata umatti, umatti, umatti/

Ya rosul kami malu, karena kami tak bisa mencontoh Kasih sayangmu/ bahkan kebanyakan umatmu kini/ hanya soal beda kiai ia saling melecehkan dan membenci/

Ya rosul kami malu, karena kami tak bisa meniru sikap lemah lembutmu/ bahkan kebanyakan umatmu kini/ kesan kemari saling menebar dendam dan dengki/

Ya rosul kami malu,  karena kami tak bisa menjiplak santunya perkataanmu/ bahkan kebanyakan umatmu kini/ saling menyodok dan mencaci maki/

Ya rosul kami malu, karena kami tak bisa meneruskan perjuanganmu/ bahkan kebanyakan umatmu kini/ berbicara banyak tapi hanya untuk kepentingan diri sendiri/

Ya rosul kami malu/ kami malu ya rosulullah/
Ya rosul bimbinglah kami/
Sayangilah kami/
Kasihilah kami/
Dekap kami/
Peluk kami/
Pandanglah kami/
Pandang kami/
Pandang kami,  Ya rosulullah/
Ya rosulullah, Ungdhur ilaina/

Pati, 12 Rabiul Awal 1438 Hijriyah

Oleh Singgih aji prasetyo, penyair kelahiran Pati. Mahasiswa Universitas PGRI Semarang.

Opini

Moratorium Ujian Nasional (Opini) 

Membahas mengenai Ujian Nasional (UN) memang sudah selayaknya menjadi hal yang tidak asing lagi bagi kita yang mengambil kosentrasi pada jalur pendidikan. Seperti halnya yang sudah diceritakan panjang lebar oleh Setia naka andrian dalam Opininya "menimbang (ketiadaan) UN".  (Wawasan, 14 Desember 2016). Akhir-akhir ini perbincangan mengenai Ujian Nasional memang lagi hangat-hangatnya. Hal ini barang tentu tidak terlepas dari wacana Mendikbud Muhadjir Effendy yang ingin menunda/menangguhkan pelaksanaan Ujian Nasional. Artinya Ujian Nasional ditiadakan atau diganti dengan kebijakan lain yang lebih baik tentunya. Namun wacana yang dikemukakan oleh Mendikbud sebagai pemenuhan putusan Mahkamah Agung tahun 2009, itu ditolak oleh presiden dalam sidang Kabinet Paripurna di Kantor Presiden, Rabu tanggal 07 Desember 2016 kemarin. Ini artinya Ujian Nasional akan tetap dilaksanakan pada setiap jenjang pendidikan seperti SD/MI, SMP/MTs, MA/SMA/Sederajat. Namun pada jenjang SD/MI Ujian Nasional diadakan dengan nama baru yaitu Ujian Sekolah. Terlepas dari itu semua dinamika Ujian Nasional ini memang sudah tidak canggung lagi untuk kita perdebatkan. Setiap kebijakan tentunya mempunyai kelebihan dan tidak terlepas juga dari suatu kekurangan. Maka dari itu lah barang tentu diperlukannya evaluasi dalam Ujian Nasional. hal tersebut tak lain tak bukan hanya lah untuk memajukan Pendidikan Nasional dan mencerdaskan kehidupan bangsa seperti yang terkandung dalam pembukaan Undang-Undang Dasar 1945. yang perlu dilakukan sekarang adalah memperbaiki sistem kebijakan yang belum berjalan dengan baik. Seperti yang kita ketahui bahwa pelaksanaan Ujian Nasional sejak awal diterapkanya pada tahun 2005 masih banyak memunculkan kecurangan-kecurangan. Misalnya saja dengan bocornya soal-soal ujian, maraknya kunci jawaban yang beredar di kalangan pelajar, atau bahkan tidak sedikit pula pihak sekolahan itu sendiri yang sengaja memberikan jawaban kepada siswa-siswinya. Atau kita juga dapat melihat kondisi mental anak-anak sebelum menghadapi ujian. Dimana anak-anak cenderung mudah stres karena beban yang begitu berat atau bahkan kondisi tubuh juga dapat menurun. Selain itu juga ada hal klasik yang terus-menerus terjadi pada anak-anak sebelum menjelang ujian. yaitu munculnya pendapat bahwa kalau Ujian Nasional menggunakan kunci jawaban kemungkinan lulusnya besar dan apaliba tidak menggunakan kunci kemungkinan tidak lulusnya yang besar. Alangkah baiknya bila sistem kebijakan yang diterapkan oleh pemerintah atau yang berwenang di lingkup ini Kemendikbud bisa membentuk mental yang baik pada anak-anak. Tidak hanya menuntut pada hasil akhir yang begitu tidak adil.


Oleh Singgih aji Prasetyo. Mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Universitas PGRI Semarang.