Sabtu, 21 Oktober 2017

(Catatan Bahasa) perbedaan sekali, sekali-sekali, sesekali, dan sekali-kali

Perbedaan sekali, sekali-sekali, sesekali, dan sekali-kali.

Pada dasarnya empat kata tersebut berasal dari turunan kata yang sama yaitu kata kali (adverbia) yang menyatakan kekerapan atau kelipatan.
Makna menurut KBBI
1. Sekali : satu kali
2. Sekali-sekali : kadang-kadang; tidak kerap; tidak sering; tidak selalu
3. Sesekali : sekali-sekali
4. Sekali-kali : sama sekali; sedikit pun (tidak, jangan)


Contoh dalam penggunaan kalimat
1. Baru sekali saya berkunjung ke rumahnya
(Artinya saya baru satu kali berkunjung ke rumahnya)
2. Sekali-sekali saya berkunjung ke rumahnya
(Artinya kadang-kadang saya berkunjung ke rumahnya, namun tidak sering)
3. Sesekali saya berkunjung ke rumahnya
(Artinya sama dengan kata di atas)
4. Saya belum pernah sekali-kali berkunjung ke rumahnya
(Artinya saya belum pernah sama sekali berkunjung ke rumahnya).

Biasanya penutur sering menggunakan pemilihan kata yang salah seperti "sekali-kali mampir ke warungku ya !". Diksi "sekali-kali" dalam kalimat tersebut merupakan hal yang keliru karena maknanya akan menjadi "sedikit pun, (tidak, jangan) mampir ke warungku" padahal maksud yang ingin disampaikan oleh penutur adalah mengajak mampir ke warungnya. Kesalahan kecil seperti ini sering tidak disadari oleh penutur, padahal sebenarnya memiliki makna yang berkebalikan.
Jadi, sekali salah tidak apa-apa; sesekali atau sekali-sekali salah juga masih tidak apa-apa; namun, jangan sekali-kali menjadikan kesalahan tersebut sebagai kebiasaan, ya !.

Catatan
Singgih Aji Prasetyo

(Catatan Bahasa) perbedaan singkatan dan akronim

Mengenal Singkatan dan Akronim

1. Singkatan = hasil menyingkat (memendekkan), berupa huruf atau gabungan huruf.
2. Akronim = kependekan yang berupa gabungan huruf atau suku kata atau bagian lain yang ditulis dan dilafalkan sebagai kata yang wajar.
Perbedaan singkatan dan akronim
1. Penulisan singkatan diikuti titik kecuali yang cetak kapital dan lambang kimia sedangkan akronim tidak diikuti titik.
2. Akronim merupakan gabungan huruf kata yang dibaca layaknya kata pada umumnya sedangkan singkatan dibaca huruf demi huruf.

Contoh singkatan
(dll., hlm., s.d, bpk. {sapaan}, DPR {nama lembaga}.
Pelafalan pada singkatan dibaca huruf demi huruf. DPR dibaca (de, pe, er).
Contoh akronim
(ABRI, SIM, Posyandu, Hardiknas, Ormas).
Akronim dibaca secara langsung atau sewajarnya. SIM dibaca (sim).
Gabungan antara Singkatan dan Akronim.
1. MA PPKP Darul Ma'la, yang biasa disebut dengan istilah MA Darma. MA disini merupakan singkatan dari Madrasah Aliyah sedangkan Darma merupakan akronim dari Darul Ma'la.
2. UPGRIS, atau yang lebih dikenal dengan Universitas PGRI Semarang. Pada dasarnya kata UPGRIS merupakan murni sebuah singkatan karena hasil kependekkan dari kalimat Universitas Persatuan Guru Republik Indonesia Semarang. Namum dalam pelafalannya UPGRIS merupakan sebuah akronim karena dibaca dengan sewajarnya dan tidak dibaca huruf demi huruf.
Semoga bermanfaat,

Catatan
Singgih Aji Prasetyo

(Puisi) Protes si Ponsel

Protes si Ponsel

Ponsel yang begitu akrab denganku
Berbicara sendiri padahal aku tak pernah memintanya
Ia nampakkan secercah cahaya-cahaya
Terlihat selarik kata-kata dalam raut wajahnya
Apa yang ingin ia katakan?


Ponsel yang begitu intim bagiku
Kini kau kembali berdering, tapi tak mau berbicara
Lalu dalam paras wajahmu kembali kau ungkapkan kata-kata
Apa yang ingin kau katakan?

Wahai penikmatku
Lihatlah diriku, aku sekarang sudah gendut
Perutku buncit tapi aku tak pernah tau siapa yang menghamiliku
Aku beri kepuasan disetiap saat kau memelukku
Aku manjakan matamu
Aku manjakan tanganmu
Aku manjakan otakmu
Tapi kau tak pernah paham akan diriku yang mulai lelah

Dan seperti itulah
Hingga kini ponselku tetap dingin kepadaku
Ia tak lagi mau berbicara, berdering, atau pun sekedar berkata-kata
Ia tetap diam dan diam
hingga tiba saat melahirkan

Singgih Aji Prasetyo
Semarang, 17 Oktober 2017

Kamis, 14 September 2017

(Puisi) Seporsi Cinta

Seporsi Cinta
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

Seporsi cinta
yang aku racik bersamamu dalam kisah cinta sederhana
Menjadikannya ramuan kebahagiaan yang orang lain damba-dambakan

Tapi ini bukan tentang orang lain, namun tentang kita
Tentang kita yang pernah merajut tali asmara dalam rundungan duka dan nestapa
Tentang kita yang tak pernah saling percaya namun akirnya disatukan oleh rasa yang sama
Menitihkan air mata berdua
Lalu mambasuhkan pada lentera hati yang menjadikan kita kuat untuk menapaki jalannya kisah ini

Kita seolah sudah saling percaya
Tentang jodoh yang tuhan ciptakan lalu diturunkan ke alam jagat kemanusiaan
Kita seolah tak lagi mengenal nestapa
Karna banyaknya mewangi bunga yang menyibakkan anyir pada semesta

Tuhan begitu indah merancang ini semua
Memilih hitam dan putih
Mewakilkan kesunyian dan sucinya dirimu yang memaksaku untuk memilih
Memilihkan siang dan malam
Membingkai mentari mendekap senja, mencumbu kemesraan menghadirkan kenyamanan
Memilih air dan api
Membakar derita dan mementaskan cita yang tak lagi layak untuk kita ratapi
Memilih aku dan kamu
Menyadingkan cinta dan sayang, lalu memohon kepada rasa untuk kita saling bersatu

Dirimu lebih dari apa yang aku miliki
Muara bagiku mencurahkan semua angan dan mimpi
Mimpi-mimpi indah, bahkan lebih indah dari ribuan bunga mawar yang sedang merekah
Hadirmu samudra bagi lelahku
Tempatku mangapungkan resah dalam gelisah

Sayang
Kini aku duduk bersandar ditepi sungai yang mengalir
Kaki kakiku merasakan porsi cinta yang kau bawa sampai hilir
Ricik itu menjarah hati yang hanya tersisa seporsi cinta pula untukmu
Untukmu wanita yang telah menggema dalam setiap kata-kataku
Wanita yang menjadi alansanku untuk selalu menghirup napas-napas rindu
Dirimu adalah segalanya
Kekasih yang aku dambakan dari sekian juta pilihan yang mengekang pikiran
Sayangmu begitu hangat menyapa
Mengalir deras dalam arus darahku, menyatu dengan nurani berhembus menerpa kokohnya kalbu
Kasihmu mengakar dalam urat nadi
Membingkai penuh sesaknya rasa memiliki, yang menjadikan kita tak sagup lagi untuk saling menyakiti

Sayang oh rasanya syahdu sekali
Saat kita berandai-andai
Tentang masa depan yang hendak kita gapai
Manisnya bibirmu menimbun janji-janji waktu itu
Menyeruakkan segala yang pernah kita jalani, lalu menyakinkanku tentang dirimu yang telah menjelma menjadi bidadari
Terima kasih atas segala rasa yang pernah ada
Tentang dirimu pula yang telah memilihku sebagai arjuna
Aku merasa begitu bahagia saat ini
Saat hari-hariku tak lagi tentang kesunyian, karna keberadaanmu yang telah menghadirkan perbedaan
Aku sangat ingin menyentak pada dunia
Meneriakkan kepada mereka tentang kisah-kisah yang kita alami berdua

Sayang kini rasanya ingin kembali aku racik ramuan cinta kita
Suka
Duka
Nestapa
Bahagia
Dan
Air mata
Kita ramu bersama
Hingga menjadi seporsi cinta
Dengan kisah yang sempurna


Semarang, 14 september 2017

Senin, 11 September 2017

(Puisi) Balada Darminah

Balada Darminah
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

Namaku Darminah
Aku seorang tentara wanita
Aku pelacur
Dan aku Seorang pembunuh

Ini Darminah
Gadis dengan loreng-loreng ditubuhnya
Mengikrarkan janji setia pada pancasila
Gadis Yang memilih mengasingkan diri di batas pangkal negeri
Menjaga keutuhan NKRI
Berbekal sepucuk senapan api
Atau hanya dengan harga diri
Bahkan tidak sama sekali

Ya,
bahkan tidak sama sekali
Untuk urusan harga diri
Aku merasa telah dihianati
Siapa lagi kalau bukan bangsaku sendiri ?
Negeri yang aku jaga hidup dan mati.

Ya,
Aku masih sangat ingat
Ketika bapakku dituduh menjadi antek-antek PKI
Dipasung dan diarak keliling kampung
Lalu dijatuhi hukuman mati
Bahkan tidak hanya itu
Mereka siarkan kabar, bahwa bapak yang anaknya seorang TNI itu adalah seorang antek-antek PKI

Bukan,
Bukan pak hakim yang terhormat
Pak hakim pasti mengerti
Bapakku bukanlah antek-antek PKI
Bapakku hanya seorang petinggi
Yang mengayomi semua masyarakat desa, meski ia seorang intelejen komunis

Namun pak hakim tetap angkuh dengan palu saktinya
Aku pun selipkan amplop abu-abu di bawah meja persidangan
Kini negeriku telah tak adil lagi kepadaku
Atau bahkan aku tak lagi adil pada negeriku sendiri
"Siap menegerti" kataku pada 2 orang ajudan yg datang melucuti loreng-lorengku
Aku dituduh menyuap pak hakim yang terhormat
Oh bukan, bukan lagi yang terhormat
Tapi kau keparat
Nyatanya tetap kau terima amplop abu-abu itu
Lalu kau belikan kemeja putih, yang kau kenakan dengan petentang petenteng
Kau lipat lengannya sebatas sikut
Agar tak ada yang tau merk kemeja itu

Kini
Darminah telah dibuang negerinya sendiri
Tertatih tatih ia mencari jati diri
Hingga merantau ke negeri negeri orang
Menjadi budak budak rumah tangga
Menjadi budak hak asasi
Bahkan sampai budak napsu birahi

Napsu birahi

Jangan-jangan ndoro
Aku ini sudah tak perawan lagi

Tapi
laki-laki hitam itu tetap menjamah tubuhku
Melumat habis kulitku yang tipis
Menyibak senti demi senti rok miniku
Meraba-raba tubuhku yang gempal
Dan
Menggembuskan napas-napas yang membara
Di setiap jengkal-jengkal leher jenjangku

Tidak
Mati, mati lah kau
Majikan majikan bejat
Kutancapkan belati warisan jenderal
Satu, dua, hingga tiga kali
Hingga aku puas dan kau mati
Kulihat bercucuran darah-darah yang tak lagi merah
Aku sumpal lubang lukanya dengan sobekan seragam lorengku

Ha ha ha
Aku ini Darminah
Aku tetap seorang tentara
Meski aku pelacur
Dan aku seorang pembunuh

Kini setelah aku merasa cukup merdeka
Akan ku dendangkan lirik-lirik lagu kebebasan
Di balik kerapnya jeruji-jeruji yang mengekang

Satu duka
Satu lara
Satu angkara murka

Tanah air
Yang ku cinta
Kini entah dimana

Indonesia katanya
Sudah lama merdeka

Namun duka
Dan nestapa
Masih saja berjaya

(Puisi) Dinding

Dinding

Dinding dinding tak berjendela
Sempit
Dan
Kecil

Dinding dinding beratap kaca
Panas
Memanas
Dan
pengap,
Sumuk
Bergelamuk
Dan
gerah,
Pasung
Memasung
Tak
Bergerak

Dinding dinding tak berjendela
Abu-abu
Merah bata
Aku
Dikekangnya

Pati, 18 Agustus 2017

Rabu, 03 Mei 2017

(Drama Radio) "Aku namakan ia Bening"

Nama : Singgih aji prasetyo
Kelas : 4F/PBSI
NPM : 15410247
Judul : “Aku namakan ia Bening”

Aku namakan ia Bening
Oleh : Singgih aji prasetyo

1.
NARATOR
Pak bowo yang sudah seharian berjalan kaki mengais barang-barang bekas itu pulang ke rumah dengan raut muka yang letih, lesu, dan kusam. Sambil menghela napas ia membersihkan barang-barang yang sudah didapatnya.
2.
BOWO
Assalamualaikum, bu ne Bu ne Bapak pulang.
3.
KURTI
Waalaikumsalam, iya pak ne ini minum dulu. Bagaiman pak ne, dapatnya banyak atau tidak?
4.
BOWO
Alhamdulillah buk  ne lebih banyak dari yang kemarin.
5.
KURTI
Alhamdulillah, kalau begitu ibuk nanti bisa melahirkan di rumah sakit kan pak? Pakai uang hasil jual kaleng-kaleng ini.
6.
BOWO
Ibuk ini loh, lah wong kita bisa mendatangkan mbok Inem aja sudah Alhamdulillah, buat bayar dukun bayi seperti mbok Inem saja mungkin kita tidak kuat buk. Apalagi untuk ke rumah sakit mau bayar pakai apa buk?
7.
KURTI
Tapi pak, Ibu ingin merasakan melahirkan di rumah sakit. Lagi pula ini juga demi keselamatan bayi kita pak. Ibu tidak ingin bayi kita yang ini lahir seperti Murni.
8.
BOWO
Husss jangan begitu buk, Murni itu anak kita.
9.
KURTI
Anak kita ya emang anak kita pak. Salah Bapak juga sih kenapa dulu Ibu ngak dibawa ke rumah sakit. Mungkin kalau di rumah sakit Murni tidak lahir seperti itu pak. Pasti Murni akan lahir sempurna tidak cacat seperti sekarang ini.
10.
BOWO
Astagfirullah buk, istiqfar buk. Cacat atau tidak itu sudah kehendak Allah. Seharusnya ibuk bersyukur sudah diberi anak yang nurut dan saleha seperti Murni.
11.
NARATOR
Di tengah perbincangan kedua orang tuanya yang kian memanas tiba-tiba murni datang sambil membawa kereta kaleng yang diuat Bapaknya.
12.
MURNI
Hem ngeng ngeng ngeng, brem brem. Bapakne, em Bapakne sudah pulang?
13.
BOWO
Iya sudah Murni sayang. Murni dari mana?
14.
MURNI
Murni tadi jalan-jalan, sama teman-teman Murni. Naik mobil mewah bareng pak Jokowi hem ngeng ngeng ngeng.
15.
BOWO
Pinter anak Bapak, besok kalau besar punya mobil yang bagus ya dan juga Murni harus bisa jadi Presiden seperti pak Jokowi.
16.
KURTI
Aduh Gusti, ini Bapak sama anak kog sama-sama ngak warasnya.
17.
BOWO
Hus, Ibuk!
18.
MURNI
Bu ne, asik ada bu ne juga. Em ibu Murni cantik, adek Murni juga cantik. Asik Murni punya adik.
19.
KURTI
Aduh amit-amit, semoga kamu ngak seperti mbakyu mu ya nak.
20.
MURNI
Em adek Murni cantik sperti Murni.
21.
KURTI
Ngak, amit-mait jabang bayi.
22.
MURNI
Hemmm hemmm Bapakne Ibune jahat.
23.
BOWO
Engak sayang, Ibune ngak jahat. Ibu itu baik, Ibu juga sayang sama Murni.
24.
MURNI
Yang bener Bapakne?
25.
BOWO
Iya sayangku. Iya kan bu ne?
26.
KURTI
Terserah Bapak lah, Bu ne capek mau istirahat dulu.
27.
NARATOR
Baru saja Kurti masuk ke dalam rumah tiba-tiba Nyonya Salima datang untuk menagih hutang kepada Murni. Nyonya Salima yang didampingi oleh dua orang keamananya langsung marah-marah dan mengobrak-abrik rumah Murni yang hanya berukuran empat meter persegi itu.
28.
SALIMA
Kurti kurti ke luar kamu.
29.
KURTI
Mohom maaf Nyonya  saya belum punya uang. Kaleng-kaleng itu belum terjual Nyonya, lagi pula saya juga lagi butuh uang buat biaya melahirkan Nyonya, jadi belum bisa melunasi hutang dulu.
30.
SALIMA
Enak saja kamu bicara. Sudah tiga bulan aku beri waktu kamu untuk bayar semua hutang-hutangmu. Bisa tidak bisa pokoknya kamu harus bayar hari ini.
31.
KURTI
Tapi mohon maaf Nyonya Salima saya benar-benar tidak punya uang. Apa mungkin bisa saya bayar dengan anak saya Murni Nyonya?
32.
BOWO
Bu ne, bu ne ini bilang apa. Murni itu anak kita bu ne.
33.
SALIMA
Bayar pakai anakmu, emang bisa apa anak cacat seperti anakmu ini? Paling mentok-mentoknya ya Cuma bisa disuruh ngemis. Iti tidak cukup untuk bayar hutang-hutangmu.
34.
KURTI
Tidak Nyonya tidak hanya itu. Bawa saja Murni Nyonya. Nyonya kan bisa jual organ-organ dalam Murni pasti akan banyak menghasilkan uang Nyonya.
35.
BOWO
Astaqfirullah bu ne, bu ne ini loh istiqfar bu ne. Ngak boleh Nyonya Murni ini anakku.
36.
SALIMA
Sopo, jarwo bawa dia kita jual organ-organnya. Kurti terima kasih hutangmu lunas semuanya.
37.
SOPO & JARWO
Siao Nyonya, Beres.
38.
MURNI
Bapakne Ibune Murni ngak mau ikut Murni ngak mau Bapakne.
39.
NARATOR
Bowo yang berusaha untuk menghalangi kedua anak buah Nyonya Salima pun tak berkutik. Bersedih lah ia karena Murni anak kesayangannya kini telah menghilang untuk melunasi hutang-hutangnya sendiri. Bowo merasa sangat bersalah pada Murni. Namun tiba-tiba Istrinya memanggil-maggil ia dengan begitu kerasnya.
40.
KURTI
Bapakne Ibuk mau melahirkan, aduh Bapakne Bapakne!
41.
BOWO
Ada apa buk ne? Gusti anakku mau keluar.
42.
KURTI
Cepat panggil mbok Inem pak ne !
43.
BOWO
Mbok? Mbok Inem tolong istri saya mbok!
44.
MBOK INEM
I i iya le ini juga saya tolong, kamu tunggu di luar saja.
45.
KURTI
Aw aw aw aw aw ah ah ah Bapakne.
46.
BOWO
Duh Gusti, selamatkanlah istri hamba selamatkan anak hamba.
47.
BAYI
Oek oek oek oek oek oek oek
48.
NARATOR
Akhirnya bayi yang ditunggu-tunggu oleh Kurti dan Bowo pun lahir. Namun mereka berdua bersedih ketika mbok Inem memberi tahu bila bayi yang baru dilahirkan oleh Kurti itu sama persis seperi Murni anak pertamanya.
49.
MBOK INEM
Ini le anakmu cantik seperti Ibunya. Tapi kamu harus bersyukur le bila ia lahir seperti Murni anak pertamamu yaitu dengan tangan sebelah kanan dan kaki sebelah kiri tidak tumbuh secara sempurna.
50.
BOWO
Iya mbok aku tetap bersyukur. Biarpun begini ia tetap wujud dari doa-doaku selama ini mbok. Biarpun aku ini orang susah, sungguh anakku ini semoga selalu mempermudahkan rekejiku mbok. Aku tak pernah menyesali doa-doaku. Aku juga tak pernah menyalahkan Tuhan. Bagiku anak ini dan juga istriku merupakan pintu untukku bertamu pada tuhan. Tak ada doa yang salah mbok aku tetap bersyukur.
 51.
MBOK INEM
Bagus kalau begitu le, semoga kamu dan istrimu tetap diberi kesabaran.
52.
BOWO
Iya mbok sebagai wujud syukurku aku namakan ia Bening. Sebening doa-doaku pada tuhan yang maha mengabulkan.