Selasa, 13 Maret 2018

(Puisi) Kekasih

Kekasih
(Ku puisikan namamu)
Oleh : Singgih Aji Prasetyo

Indah berseri setangkap melur di taman
Terhampar mewangi melur setangkai
Sedang semak pun tak berani menyanding
Nilam nan harum meleburkan harapan
Atas sebuah permohonan

Yakinkanlah ! Aku masih di sini
Untukmu kupandang sendiri
Langit yang meringkuk di atas taman
Iba melihatku terjerat ilalang
Akankah kembali indah mewangi
Rupanya kembang sari telah terbagi

Ratapilah ! Sunyi tak selamanya berkecamuk
Ocehkanlah ! Rasa tak selamanya dalam peluk
Habis sudah kini aku nantikan
Melati putih telah kehilangan padan
Atas sebuah permohonan
Hingga pada doa aku coba melapangkan


Semarang
13 Maret 2018

Senin, 05 Maret 2018

(Catatan Bahasa) Sejarah Perkembangan Bahasa Indonesia

SEJARAH PERKEMBANGAN BAHASA INDONESIA

1) Perkembangan Bahasa Indonesia Sebelum Merdeka
Pada dasarnya Bahasa Indonesia berasal dari bahasa Melayu. Pada zaman Sriwijaya, bahasa Melayu di pakai (dipakai) sebagai bahasa penghubung antar suku di Nusantara dan sebagai bahasa yang di gunakan (digunakan) dalam perdagangan antara pedagang dari dalam Nusantara dan dari luar Nusantara.
Perkembangan dan pertumbuhan Bahasa Melayu tampak lebih jelas dari berbagai peninggalan-peninggalan misalnya:
Tulisan yang terdapat pada batu Nisan di Minye Tujoh, Aceh pada tahun 1380
Prasasti Kedukan Bukit, di Palembang pada tahun 683.
Prasasti Talang Tuo, di Palembang pada Tahun 684.
Prasasti Kota Kapur, di Bangka Barat, pada Tahun 686.
Prasati Karang Brahi Bangko, Merangi, Jambi, pada Tahun 688.
Dan pada saat itu Bahasa Melayu telah berfungsi sebagai:
Bahasa kebudayaan yaitu bahasa buku-buku yang berisia aturan-aturan hidup dan sastra.
Bahasa perhubungan (Lingua Franca) antar suku di indonesia (Indonesia)
Bahasa perdagangan baik bagi suku yang ada di Indonesia maupun pedagang yang berasal dari luar indonesia (Indonesia).
Bahasa resmi kerajaan.
Bahasa melayu menyebar ke pelosok Nusantara bersamaan dengan menyebarnya agama Islam di wilayah Nusantara, serta makin berkembang dan bertambah kokoh keberadaannya karena bahasa Melayu mudah di terima oleh masyarakat Nusantara sebagai bahasa perhubungan antar pulau, antar suku, antar pedagang, antar bangsa dan antar kerajaan. Perkembangan bahasa Melayu di wilayah Nusantara mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan rasa persatuan bangsa Indonesia, oleh karena itu para pemuda indonesia (Indonesia) yang tergabung dalam perkumpulan pergerakan secara sadar mengangkat bahasa Melayu menjadi bahasa indonesia (Indonesia) menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa indonesia (Imdonesia). (Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928).
2) Perkembangan Bahasa Indonesia Sesudah Merdeka
Bahasa Indonesia lahir pada tanggal 28 Oktober 1928. Pada saat itu, para pemuda dari berbagai pelosok Nusantara berkumpul dalam rapat, para pemuda berikrar:
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku bertumpah darah yang satu, Tanah Air Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku berbangsa yang satu, Bangsa Indonesia.
Kami Putra dan Putri Indonesia mengaku menjunjung tinggi bahasa persatuan, bahasa Indonesia.
Ikrar para pemuda ini di kenal dengan nama “Sumpah Pemuda”. Unsur yang ketiga dari “Sumpah Pemuda” merupakan pernyataan tekad bahwa bahasa indonesia (Indonesia) merupakan bahasa persatuan bangsa indonesia (Indonesia). Pada tahun 1928 bahasa Indonesia di kokohkan (dikokohkan) kedudukannya sebagai bahasa nasional. Bahasa Indonesia di nyatakan (dinyatakan) kedudukannya sebagai bahasa negara pada tanggal 18 Agustus 1945, karena pada saat itu Undang-Undang Dasar 1945 di sahkan (disahkan) sebagai Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia. Di dalam UUD 1945 di sebutkan (disebutkan) bahwa “Bahasa Negara Adalah Bahasa Indonesia,(pasal 36). Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945, telah mengukuhkan kedudukan dan fungsi bahasa indonesia (Indonesia) secara konstitusional sebagai bahasa negara. Kini bahasa indonesia (Indonesia) di pakai (dipakai) oleh berbagai lapisan masyarakat indonesia (Indonesia).
Peresmian Nama Bahasa Indonesia
Bahasa Indonesia adalah bahasa resmi Republik Indonesia dan bahas persatuan bangsa indonesia (Indonesia). Bahasa indonesia (Indonesia) di resmikan (diresmikan) penggunaannya setelah Proklamasi Kemerekaan Indonesia, tepatnya sehari sesudahnya, bersamaan dengan mulai berlakunya konstitusi. Di Timor Leste, Bahasa Indonesia berposisi sebagi bahasa kerja. Dari sudut pandang Linguistik, bahasa indonesia (Indonesia) adalah salah satu dari banyak ragam bahasa Melayu. Dasar yang dipakai adalah bahasa Melayu-Riau dari abad ke-19.
Dalam perkembangannya ia mengalami perubahan akibat penggunaannya sebagi bahasa kerja di lingkungan administrasi kolonial dan berbagai proses pembakuan sejak awal abad ke-20. Penamaan “Bahasa Indonesia” di awali (diawali) sejak di canangkannya (dicanangkannya) Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928, untuk menghindari kesan “Imperialisme bahasa” apabila nama bahasa Melayu tetap di gunakan (digunakan).
Proses ini menyebabkan berbedanya Bahasa indonesia (Indonesia) saat ini dari varian bahasa Melayu yang di gunakan (digunakan) di Riau maupun Semenanjung Malaya. Hingga saat ini, bahasa indonesia (Indonesia) merupakan bahasa yang hidup, yang terus menghasilkan kata-kata baru, baik melalui penciptaan maupun penyerapan dari bahasa daerah dan bahasa asing. Meskipun di pahami (dipahami) dan di tuturkan (dituturkan) oleh lebih dari 90% warga indonesia (Indonesia), bahasa indonesia (Indonesia) bukanlah bahasa ibu bagi kebanyakan penuturnya. Sebagian besar warga indonesia (Indonesia) menggunakan salah satu dari 748 bahasa yang ada di indonesia (Indonesia) sebagai bahasa Ibu. Penutur Bahasa indonesia (Indonesia) kerap kali menggunakan versi sehari-hari (kolokial) atau mencampur adukkan dengan dialek Melayu lainnya atau bahasa Ibunya.
Meskipun demikian , bahasa indonesia (Indonesia) di gunakan (digunakan) sangat luas di perguruan-perguruan. Di media massa, sastra, perangkat lunak, surat-menyurat resmi, dan berbagai forum publik lainnya, sehingga dapatlah dikatakan bahwa bahasa indonesia (Indonesia) di gunakan (digunakan) oleh semua warga indonesia (Indonesia). Bahasa Melayu dipakai dimana-mana (di mana-mana) diwilayah (di wilayah) nusantara serta makin berkembang dengan dan bertambah kukuh keberadaannya. Bahasa Melayu yang dipakai didaerah-daerah (di daerah-daerah) diwilayah (di wilayah) nusantara dalam pertumbuhan dipengaruhi oleh corak budaya daerah. Bahasa Melayu menyerap kosa kata dari berbagai bahasa, terutama dari bahasa sanskerta (Sansakerta), bahasa Persia, bahasa Arab, dan bahasa-bahasa Eropa.
Bahasa Melayu pun dalam perkembangannya muncul dalam berbagai variasi dan dialek. Perkembangan bahasa Melayu diwilayah (di wilayah) mempengaruhi dan mendorong tumbuhnya rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komikasi rasa persaudaraan dan persatuan bangsa Indonesia. Komunikasi antar perkumpulan yang bangkit pada masa itu menggunakan bahasa Melayu menjadi bahasa Indonesia, yang menjadi bahasa persatuan untuk seluruh bangsa Indonesia dalam sumpah pemuda 28 Oktober 1928. Untuk memperoleh bahasa nasionalnya, Bangsa Indonesia harus berjuang dalam waktu yang cukup panjang dan penuh dengan tantangan.
Perjuagan demikian harus dilakukan karena adanya kesadaran bahwa di samping fungsinya sebagai alat komunikasi tunggal, bahasa nasional sebagai salah satu ciri cultural, yang ke dalam menunjukkan sesatuan (kesatuan) dan keluar menyatakan perbedaan dengan bangsa lain.

Ada empat faktor yang menyebabkan Bahasa melayu diangkat menjadi bahasa Indonesia, yaitu:
Bahasa melayu adalah merupakan Lingua Franca di Indonesia, bahasa perhubungan dan bahasa perdagangan. Sistem bahasa melayu (Melayu) sederhana, mudah di pelajari (dipelajari) karena dalam bahasa melayu tidak di kenal (dikenal) tingkatan bahasa (bahasa kasar dan bahasa halus).Suku Jawa, Suku Sunda, dan Suku2 yang lainnya dengan sukarela menerima bahasa melayu (Melayu) menjadi bahasa indonesia (Indonesia) sebagai bahasa nasional. Bahasa melayu mempunyai kesanggupan untuk di pakai (dipakai) sebagai bahasa kebudayaan dalam arti yang luas.

Senin, 12 Februari 2018

(Puisi) Percaya pada Tuhan

Percaya pada Tuhan
Sajak teruntuk kekasih

Masih sama seperti malam-malam dan fajarku yang telah berlalu
Bayang-bayang senyum dan tawamu
Selalu hadir terbungkus kenangan-kenangan semu

Kekasih, aku masih sangat ingat
Saat kita saling menggenggam perasaan yang sama
Berkidung tentang cinta yang fana
Tanpa ada rasa saling percaya
Hingga pada akhirnya kita terjatuh dalam perihnya duka dan luka

Ya, aku masih ingat betul
Saat kata-kata yang kau balut dengan tangis menjadi penjara pengekangku
Yang melemparkanku pada dinding-dinding tak bersekat
Hingga aku tak berdaya, walau hanya  sebatas mengusap air matamu
Atau bahkan air mataku sendiri
Hingga aku tak kuasa lagi, walau hanya sekadar mengelus lembut keningmu, mendekap hati, atau bercumbu dengan geliat di wajahmu

Kekasih
Ini aku, lelaki yang kau penjara dengan tangismu
Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun
Aku hanya duduk termangu, menyilangkan kaki, menatap dinding-dinding penjara, tanpa aku tau sedang apa dan dengan siapa kau di luar sana.
Kekasih,
Ini aku, lelaki yang kau belenggu dalam kata-katamu
Berhari-hari, berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun
Aku sandarkan diriku pada tembok penyekat ini, sembari berharap engkau datang membawa kabar, menjelaskan tentang semua kebohonganmu, kebohonganku atau bahkan kebohongan kita
Pada setiap sudut perasaan yang begitu menyiksa

Kekasih
Pada malam menjelang fajarku ini
Aku masih sama, hanya bersandar di tembok penjara ini
Di sini dingin, pengap, dan sempit
Bahkan aku terhimpit dan terjepit
Dengan perasaan yang menjerit-jerit
Ingin aku bersua denganmu di luar sana, tapi aku tak berdaya, tapi aku tak kuasa kekakasih.

Hingga terbitlah fajar
Aku mulai melihat mentari merayap masuk dari celah angin-angin penjaraku
Hembusanya begitu harum nan menyejukkan
Pekat ini tak asing lagi bagiku
Aku tahu ya aku tahu, itu wangi tubuhmu kekasihku
Sedang apa kau diluar sana? Kenapa kau tidak menyapaku?
Aku merindukanmu
Aku merindukan kata-katamu
Bahkan aku rindukan rengek dari tangismu, karena hanya pada saat itu lah hati kita begitu dekat dan menyatu

Dan tiba-tiba seekor burung datang, menerobos lubang angin-angin itu, mengepak-ngepakkan sayap yang begitu indah,
Menari kesana kemari, tersenyum kepadaku dengan begitu mesranya.

Wahai burung
Kenapa kau kemari, bukankah kau tau aku sendirian? di sini begitu dingin karena aku tak bisa lagi mendekap hangatnya cinta kekasihku

Wahai burung
Kenapa kau kemari, kenapa kau berwarna merah jambu? Bukankah kau tau tubuhmu itu hanya mengingatkanku pada senyum kekasihku

Wahai burung
Kenapa kau kemari, kenapa kau terus menari dan menari? Bukankah kau tau tarianmu itu nampak seperti getaran bibir tangis kekasihku

Wahai burung
Kenapa kau diam saja? Kenapa kau sama seperti kekasihku? Kenapa kau tak mau menyapaku?

Wahai burung
Ayo lah, ayo kabarkan kepadaku, kenapa kekasihku hanya diam bersandar di sisi luar tembok penjara? Bukankah dia yang menyuruhmu datang untuk menghiburku?

Sudahlah wahai burung
Aku juga akan diam seperti engkau diam dan diamnya kekasihku
Aku percaya wahai burung
Aku percaya pada cinta
Aku percaya pada kekasihku
Dan aku percaya pada Tuhan
Tuhan akan menyatukan kita,

Menyatukan dua hati yang dipisahkan oleh sekat tembok penjara.


Singgih Aji Prasetyo
Teater Plat-K,
Rembang 15 Desember 2017

Rabu, 08 November 2017

(Drama) Maklumat Wayang



Maklumat Wayang
karya : Singgih aji prasetyo


Musik opening (Pak Narto dan Bu Jumirah)
Bu Jumirah       : pak, pak asline sampean iki panjer wayang wong opo ora leh pak? Tamu wes semene akehe, suguhan wes arep entek kok hurong teko-teko wonge. Aku ngeneki isin karo tonggo-tonggo, wes kadong kesebar kabar sak kelurahan yen awak dewe iki arep dewe hajat nyunatno anak lanang seng ganteng dewe, nanggap wayang wong. Deloken go pak seng wes arep do delok wayang wong, wes podo kumpol semene akehe.
Pak Narto         : begini loh mah, mamah kan tau sendiri kalau papah ini orangnya tanggung jawab dan amanah. Jadi apa yang papah sampaikan ke mamah kemarin itu, sudah sesuai dengan realita dan fakta yang ada. La wong wes tak panjeri, iki loh kuwitansine diwoco, Tanggale yo wes pas, 28 Desember 2017, acara : nyunatno den bagus aliyando sucipto, desa mbeketel, kecamatan Lebanon, kabupaten rembang bangkit, panjer 250, tertanda Dalang Ki Mantep Sudarminto, Lo yo ceto to.
Bu Jumirah       : lah nyatane yo ora podo teko-teko pemaine, titennono nek kanti ora teko sampean seng bakal tak dadekke wayang, aku wes kadong isen karo tonggo-tonggo. Opo meneh yen tole Den Bagus Aliyando Sucipto kanti diisen-isen karo kanco-koncone, sampean kudu wani tanggung jawab.
Pak Narto        : sabar to mah sabar, sebentar lagi pasti sampai disini mah, sabar.

(Aliyando masuk)
Aliyando         : ha ha ha ha ha ha mah, mamah nenen
Bu Jumirah      : heh, la wong bocah wes gede wes disunatno barang la kok ijeh jalok nenen, opo ora isen iku didelok bu dosen?
Aliyando         : la endi wayange jare ameh ditanggapno wayang kok ora ono?
Bu Jumirah      : lah kono kuwi takon karo Bapakmu, seng panjer Bapakmu kok takone karo aku?
Aliyando         : to narto
Pak Narto        : heh, ngomong opo, ngomong karo wong tuo kok ra sopan.
Aliyando         : I am sorry pah, I am kilaf. Ee lah wayange endi?. Aku wes kadong ngomong karo konco-konco takon melekan kok, konco-koncoku karo guruku, tukang kebon, bu kantin, bakol pentol wes takon moro kabeh. Nek gak sido aku dak isen, nek mading sekolahan iku loh wes kadong tak templek’I pengumuman tonton dan saksikanlah pegelarang wayang wong dalam rangka tasyakuran sunatan aku.
Pak Narto        : cah bagus sabar, bapak iki wes rono wes panjer, paleng sedelok maneh yo wes tekan kene pemaine. Kamu itu harus latihan sabar sedari kecil, agar nanti kalau kamu sudah dewasa bisa menjadi orang yang bijaksana, tidak mudah emosi dan tidak mudah diprovokasi oleh provokator-provokator  yang dapat menimbulkan keadaan yang semakin tidak kondusif.
Aliyando         : elah pokok e wayang sak iki, aku emoh nek gak wayang
Pak Narto        : yo yo yo yo seng sabar, yo uwes tak telfonke disek dalange yen ngono. (telfon)
Aliyando         : lah lah lah kae dalange wes teko, ye ye dalange teko, ye ye dalange teko.

(music, dalang masuk)
Dalang             : assalamualaikum.
Bu Jumirah      : waalaikumsalam, piye to pak pak. Sampean niki ditanggap wong ora tanggung jawab, aku wes kadong isen, tamu semene akehe iki sebagian wes podo bali goro-goro nunggu sampean ora teko-teko. Suguhan-suguhan yo wes kanti ngene rupane, deloken go boges wes podo ngiler, nogo sari eo ngiler, arem-arem e mambu, krupuk mplempem, kopi kui lo kok iso kanti adem.
  Dalang            : iki wong opo opo yo yo, omong kok ora ono pedote blas. Ngeten lo buk, kulo niki wau supe, kulo kinten niki wau dereng tanggal 28 desember, rumaos kulo niki wau nembe tanggal 28 maret.
  Bu Jumirah     : la kok adoh men tanggal 28 desember karo 28 maret, tanggalan sampean niki mau gawekan mojopahit opo singosari.
  Dalang            : lah pripon, lah nek boten ngoten geh boten lucu ee.
  Pak narto        : lah iya kok pak, kita kemarin kan sudah ada MOU. Kita sudah sepakat, harga juga sudah deal, panjer sudah saya kasih, bapak saya cagerkan kok, cagerkan iki opo bahasa Indonesiane, bapak sudah saya arep-arep, eee lah kok malah tidak lek ndang datang. Bapak ini membuat saya galau.
Dalang             : njih, njih kulo ngaku salah. mpon pokoke mangke kulo maen seng apik, Untuk mengobati kekecewaan panjenengan dan para penonton, pokok e dijamin puas.
Bu Jumirah      : mpon monggo dang dikepyakke wayange
Dalang             : oh njeh siap (bu jumirah), wes sak iki ngene cah ayo dang disiapke kabeh perlengkapane, ayo sak iki dang maen!.
Wayang           : (bisik-bisik)
Gatot koto       : nganu pak dalang nuwun sewu, pakaianya tertinggal.
Dalang             : kalian ini bagaimana, lah kok ora katokmu kui seng keri?
Pergiwo           : lah niki bener iki pak dalang, ndi pakaiane.
Gatot koco      : lah niki seng salah, niki seng tugase gowo malah ora digowo. (cakil)
Pergiwo           : bener niku pak dalang niki seng salah.
Cakil                : lah kok iso aku iku piye, kita ini sama-sama wayang, kita punya hak dan kewajiban yang sama dihadapan ki dalang,  seharusnya kita ini saling mengingatkan bukan malah saling menyalahkan. Waata’awanuu alal birri wattaqwa walataawanu alal ismi wal udwan, dan tolong menolonglah dalam kebaikan dan taqwa dan jangan tolong menolong dalam dosa dan permusuhan. Seharuse yen aku lali iku kuwe duweni kewajiban kudu ngelengke ojo malah nyalahke aku.
Pergiwo           : lah bener iku, cocok kui dalilmu.
Gatot koco      : kaet mau kok benar bener, kono bener kene bener, janjane kue iku melu sopo?
Pergiwo           : aku yo jelas melu seng bayar.
Dalang             : pokoknya saya tidak mau tau, sekarang juga kita main cari pakain sesuai dengan peran kalian masing-masing, kamu jadi gatot koco, kamu jadi pergiwo, dan kamu jadi cakil, cepat!.
Wayang           : siap.
Dalang             : ee bener, wes dipaido seng duwe omah, due anak buah ora ono seng beres dipasrahi kon gowo pakaian ae lali, awas tak potong bayarane, ora ngerti ta piye nek kene iki dalang. Hem cek cek,
Sigro kang bolo tumingal
Kajempo sawiyo wedalih
Risang mawegandrung
Sabarang kadulung ukir moyak-mayik dias balewor, o
                       Kocap kacarito, woten ing negoro pringgodani, raden gatot koco ngupadi ingkang garwo dewi endang pergiwo. Ingkang bade dipon boyong wonten ing dampar kencono, wismo panghargiyo. Raden gatot koco ngambah dergantoro.

Gatot koco (masuk)
Dalang             : iki opo iki, gatot koco kok ape blonjo
Gatot koco      : nuwun sewu pak daalang, niki mau geh sak entene. Dados geh dimaklumi wong pakaiane keri.
Dalang             : yo wes ra popo seng penteng bayaran. Yo wes ayo dilanjutke ceritane. Raden gatot koco sampon jumeneng wonten ing palagan, dugi titiwancinipun dewi endang pergiwo. Mijil wonten ing sasono. Dewi ending pergiwo metu ndok!.

Pergiwo (masuk)
Pergiwo           : jane aku wegah ngeniki wong kok iso diubel-ubel koyok lontong, diulek-ulek karo wedak koyo ngene, digencuni yo kliwat kabeh, ora sumbot karo bayarane.
Dalang             : kue iki janjane lapo, wong diwedak i ora tambah ayu kok malah tambah koyo barongan. Wes sak iki kono do jagong do omong-omongan kono!.
Gatot koco      : adikku di adikku, dewi endang pergiwo mreneo cah ayu nyerak o marang kakang, siro bakal tak pondong, tak boyong ono ing kesatrian pringgodani (dialek pergiwo)
Pergiwo           : kakang gatot koco, sejatosipun kulo puron panjenengan boyong wonten ing kesatrian pringgodani, ananging kakang, sejatosipun wonten setunggalipun tiang ingkang remen kalian kulo. (dialek gatot koco)
Dalang             : kuwalek, kuwalek, suttt kuwalek.
(pindah posisi)
Gatot koco      : o kuwalek, adikku di adikku
Dalang             : suttt, heh kuwalek
Gatot koco      : o ijeh kuwalek, adikku di adikku
Dalang             : heh seng kuwalek kuwi omongane dudu posisine, janjane kuwe iki mudeng ta ora leh yo yo?
Gatot koco      : o omongane to ngomong dong. adikku di adikku, dewi endang pergiwo mreneo cah ayu nyerak o marang kakang, siro bakal tak pondong, tak boyong ono ing kesatrian pringgodani.
Pergiwo           : kakang gatot koco, sejatosipun kulo puron panjenengan boyong wonten ing kesatrian pringgodani, ananging kakang, sejatosipun wonten setunggalipun tiang ingkang remen kalian kulo.
Gatot koco      : sopo iku diajeng, wani-wanine ganggu calon bojoku?
Pergiwo           : tiang puniko nun inggeh cakil kakang.

Cakil (masuk)
Gatot koco      : cakil opo bener kue seneng marang calon bojoku dewi endang pergiwo?
Cakil                : iyo iyo iyo, aku aku aku, seng seneng marang diajeng pergiwo iku aku aku aku. Ape lapo kowe, ape lapo kowe?
Gatot koco      : kok wani-wanine kowe ape ngoyok calon bojoku?
Cakil                : seng tak wedeni opo, tak wedeni opo?
Gatot koco      : eee atos cocotmu, lir kadiyo kandel kuletmu, koyo dene ora tedas papak palune pandai,
Dalang             : bumi gonjang ganjeng, langit ginjur-ginjur (kelap-kelap)
o, kemudian terjadilah perang yang dasyat antara gatot kaca dengan buto cakil. Siapakah yang akan jadi pemenangnya, kita saksikan bersama.
Gatot koco      : cakil bakal tak rampungi kue dino iki, cabut janggamu mati deneng aku.




(perang) gatot kaca mati
Cakil                : diajeng pergiwo sak iki gatot koco wes mati, gatot koco wes mati, sak iki ayo kawen karo aku.
Pergiwo           : cakil, aku mau menuruti apa yang jadi keinginanmu, tapi saya kasih satu permintaan.
Cakil                : opo iku diajeng?
Pergiwo           : aku meninginkan engkau membunuh orang yang akan menjadi penghalang cinta kita, yang selama ini diam-diam mencintaiku.
Cakil                : e ladalah sopo iku diajeng, sopo iku?
Pergiwo           : dalang kil.
Cakil                : e dalang mati deneng aku.

(perang) cakil mati
Dalang             : pergiwo sekarang sudah tidak ada yang menjadi penghalang cinta kita sayang, disini hanya ada aku dan kamu. sudikah kau menjadi istriku?.
  Pergiwo          : jangan salah dalang, karna sebenarnya masih ada satu lagi yang diam-diam menginginkanku.
Dalang             : siapa gerangan orang itu wahai sayangku?
Pergiwo           : dia adalah Narto, aku ingin kau membunuhnya dalang!.
Dalang             : narto ternyata kau musuh dalam selimut narto, kau menanggapku ternyata ini tujuanmu narto.
Pak Narto        : ha ha ha kalau memang iya kenapa? Setiap orang berhak mencintai, setiap orang berhak memiliki.
Bu jumirah      : papah jadi selama ini papah diam-diam ada wanita lain, jadi selama ini papah menghianati cinta mamah.
Pak Narto        : kakean omong (membunuh bu jumirah) wong wedok cerewet, dst. Dalang reneo majuo. Kita tentukan siapa yang berhak memiliki pergiwo. (aliyando turun)
Dalang             : narto, sekalipun engkau yang punya uang di sini, tapi sedikit pun aku tak gentar menghadapimu.
Pak Narto        : wahai dalang, sekalipun engkau yang mempunyai kekuasaan mengatur di sini, namun selangkah pun aku tak akan mundur menghadapimu.

Perang (mati semua)
Pergiwo           : lah kalau begini terus bagaimana, kesatriya mati, angkara murka mati,  yang pandai berkata-kata mati,  yang punya uang mati, yang punya kekuasaan mati, jadi apa gunanya aku hidup lagi. Kalau memang harus mati matilah semuanya.
Aliyando         : ha ha ha papah, mamah. Bangun pah bangun mah jangan diam saja, bangun jangan diam saja.
Ya Tuhan, kenapa semuanya harus seperti ini, kenapa bukan angkara murka saja yang mati. Kenapa para kesatriya pun ikut mati. Apakah ini akibatnya jika manusia-manusia sudah terlena dengan kepentingan-kepentingannya. Apakah ini akibatnya jika manusia-manusia terlalu terbuai oleh hawa napsunya, apakah ini akibatnya jika manusia-manusia begitu mudah untuk diadu domba.
Kini semuanya telah mati
(Ya Tuhan kini bumi-Mu telah mati dan tak akan pernah hidup kembali
Tanah-Mu telah mati, terlalu banyak ditanam aspal dan besi
Udara-Mu telah mati, dimana-mana asap dan polusi
Api-Mu telah mati, ia termakan oleh kobarnya sendiri
Air-Mu pun telah mati, tak bisa jernih seperti dulu lagi
Ya tuhan, kini semuanya telah mati
Para pemimpin telah mati, karena tak bisa menepati janji-janji
Rakyat pun ikut mati, dihantam oleh adu domba dan provokasi
Para petani telah mati, pupuk mereka diselundupkan sebagai upeti
Nelayan-nelayan telah mati, air laut mereka kini tak asin lagi
Aparat hukum telah mati, terlalu banyak menyelipkan amplop dispensasi
Para pengusaha telah mangkat, menumbuhkan konglomerat mengikis habis kaum melarat
Guru-guru telah mati, mereka terlampau baik mengajar tanpa menerima gaji
Pelajar-pelajar juga telah mati, hanya mengejar nilai tanpa dapat berekspresi
Anak-anak telah mati, terbujur kaku di depan televisi
Bahkan kiai-kiai kami pun telah mati, karna tak lagi dapat memberikan contoh kepada para santri).
Ya Tuhan, ampunilah kami dan mereka, ampunilah kami dan mereka, ampunilah kami dan mereka.

Tamat. . .

(Puisi) Kini Semuanya Telah Mati



Kini semuanya telah mati
(puisi dalam naskah drama)
oleh : Singgih Aji Prasetyo
 
(Ya Tuhan kini bumi-Mu telah mati dan tak akan pernah hidup kembali
Tanah-Mu telah mati, terlalu banyak ditanam aspal dan besi
Udara-Mu telah mati, dimana-mana asap dan polusi
Api-Mu telah mati, ia termakan oleh kobarnya sendiri
Air-Mu pun telah mati, tak bisa jernih seperti dulu lagi

Ya tuhan, kini semuanya telah mati
Para pemimpin telah mati, karena tak bisa menepati janji-janji
Rakyat pun ikut mati, dihantam oleh adu domba dan provokasi
Para petani telah mati, pupuk mereka diselundupkan sebagai upeti
Nelayan-nelayan telah mati, air laut mereka kini tak asin lagi
Aparat hukum telah mati, terlalu banyak menyelipkan amplop dispensasi
Para pengusaha telah mangkat, menumbuhkan konglomerat mengikis habis kaum melarat
Guru-guru telah mati, mereka terlampau baik mengajar tanpa menerima gaji
Pelajar-pelajar juga telah mati, hanya mengejar nilai tanpa dapat berekspresi
Anak-anak telah mati, terbujur kaku di depan televisi
Bahkan kiai-kiai kami pun telah mati, karna tak lagi dapat memberikan contoh kepada para santri). 

Ya Tuhan, ampunilah kami dan mereka, ampunilah kami dan mereka, ampunilah kami dan mereka.

Sabtu, 21 Oktober 2017

(Esai) Menyimak kembali makna hari santri



Menyimak  kembali  makna  hari  santri

Bulan  oktober,  barang  tentu  menjadi  bulan  yang  sangat  ditunggu  kehadirannya  oleh  kaum  santri  di  seluruh  antero  tanah  air. Tidak  menjadi  rahasia  umum  lagi  kalau  di  bulan  oktober  ini,  bangsa  kita  terutama  para  santri,  akan  disibukkan  dengan  seabrek  kegiatan  untuk  memperingati  Hari  Santri  Nasional  (HSN).
Merayakan  adanya  hari  santri,  berarti  juga  wajib  untuk  mengetahui  sejarah  lahirnya.  Akan  sangat  tidak  mulia  tentunya  apabila  kita  memaknai  hari  santri  hanya  sebatas  pengakuan  sebagai  Negara  yang  mayoritas  berwargakan muslim.  Lebih-lebih  lagi  jika  itu  hanya  digunakan  sebagai  hura-hura  sehari  saja,  lalu  setelah  itu  berlalu  tanpa  makna.
Penetapan  hari  santri  pada  tanggal  22  Oktober,  oleh  presiden  Jokowi  melalui  Keputusan  Presiden  Nomor  22  Tahun  2015  tentu  bukan  tanpa  alasan.  Penetapan  tersebut  merujuk  pada  peristiwa  bersejarah  yang  dilakukan  oleh  para  santri  dalam  upayanya  mempertahankan  kemerdekaan  bangsa  Indonesia  dari  kaum  penjajah.
Para  santri  dengan segenap  caranya  sendiri-sendiri  membaur  menjadi  satu  kesatuan  yang  utuh  dan  sulit  untuk  dihentikan.  Gerak  para  santri  ini  didasari  atas  kembalinya  tentara  colonial  Belanda  yang  mengatasnamakan  dirinya  NICA  (Nederlandsch  Indie  Civil  Administratie).
Kemudian  atas  kembalinya  tentara  colonial  belanda  ini  lah,  KH  Hasyim  Ashari  (pendiri  Nahdlatul  Ulama)  kala  itu  pada  22  Oktober  1945  di  Surabaya  menyuarakan  resolusi  jihad.  Berikut  isi  teks  resolusi  jihad  sebagaimana  yang  pernah  dimuat  di  harian  (kedaulatan  rakyat,  Yogyakarta,  edisi  NO.  26  Tahun  ke-I,  Jumat  legi,  26  Oktober  1945).
Pemerintah  Repoeblik,  Soepaya  mengambi l tindakan  jang  sepadan.  Resoloesi  wakil-wakil  daerah  Nahdlatoel  Oelama  Seloeroeh  Djawa-Madoera.  Bismillahirrochmanir  Rochim,  Resoloesi  :  Rapat  besar  wakil-wakil  daerah  (Konsoel-Konsoel)  Perhimpoenan  Nahdlatoel  Oelama  seloeroeh  Djawa-Madoera  pada  tanggal  21-22 October  1945  di  Soerabaja.  Mendengar  :  Bahwa  di  tiap-tiap  Daerah  di  seloeroeh  Djawa-Madoera  ternjata  betapa  besarnja  hasrat  Oemmat  Islam  dan  ‘Alim  Oelama  di  tempatnja  masing-masing  oentoek  mempertahankan  dan  menegakkan  AGAMA,  KEDAOELATAN  NEGARA  REPOEBLIK  INDONESIA  MERDEKA.
Menimbang  :  a.  Bahwa  oentoek  mempertahankan  dan  menegakkan  Negara  Repoeblik  Indonesia  menurut  hoekoem  Agama  Islam,  termasoek  sebagai  satoe  kewadjiban  bagi  tiap-tiap  orang  Islam.  b.  Bahwa  di  Indonesia  ini  warga  negaranja  adalah  sebagian  besar  terdiri  dari  Oemmat  Islam.  Mengingat:  1.  Bahwa  oleh  fihak  Belanda  (NICA)  dan  Djepang  jang  datang  dan  berada  di  sini  telah  banjak  sekali  didjalankan  kedjahatan  dan  kekedjaman  jang  menganggoe  ketentraman  oemoem.  2.  Bahwa  semoea  jang  dilakoekan  oleh  mereka  itu  dengan  maksoed  melanggar  kedaoelatan  Negara  Repoeblik  Indonesia  dan  Agama,  dan  ingin  kembali  mendjadjah  di  sini  maka  beberapa  tempat  telah  terdjadi  pertempoeran  jang  mengorbankan  beberapa  banjak  djiwa  manoesia.  3.  Bahwa  pertempoeran-pertempoeran  itu  sebagian  besar  telah  dilakoekan  oleh  Oemmat  Islam  jang  merasa  wadjib  menoeroet  hoekoem  Agamanja  oentoek  mempertahankan  Kemerdekaan  Negara  dan  Agamanja.  4.  Bahwa  di  dalam  menghadapai  sekalian  kedjadian-kedjadian  itoe  perloe  mendapat  perintah  dan  toentoenan  jang  njata  dari  Pemerintah  Repoeblik  Indonesia  jang  sesoeai  dengan  kedjadian  terseboet.
Memoetoeskan  :  1.  Memohon  dengan  sangat  kepada  Pemerintah  Repoeblik  Indonesia  soepaja  menentoekan  soeatoe  sikap  dan  tindakan  jang  njata  serta  sepadan  terhadap  oesaha-oesaha   jang  akan  membahajakan  Kemerdekaan  dan  Agama  dan  Negara  Indonesia  teroetama  terhadap  fihak  Belanda  dan  kaki  tangannja.  2.  Seoapaja  memerintahkan  melandjoetkan  perdjoeangan  bersifat  “sabilillah”  oentoek  tegaknja  Negara  Repoeblik  Indonesia  Merdeka  dan  Agama  Islam.  Soerabaja,  22  Oktober  1945.
Resolusi  ini  kemudian  diikuti  dengan  adanya  seruan  jihad  dari  KH.  Hayim  Ashari,  yang  mengeluarkan  fatwa  bahwa,  membela  tanah  air  dari  kaum  penjajah  hukumnya  fardlu’ain  atau  wajib  bagi  setiap  warga  Negara.  Fatwa  yang  diserukan  oleh  KH.  Hasyim  Ashari  ini  begitu  membakar  semangat  kaum  santri  di  seluruh  nusantara  pada  umumnya  dan  terkhusus  arek-arek  santri  Surabaya.
Dengan  kekuatan  spiritual  yang  menjadi  benteng  kokoh  bagi  bekal  mereka  untuk  berperang  ini  lah,  lalu  mereka  bahu-membahu  untuk  menyerang  markas  Brigade  49  Mahratta  pimpinan  Brigadir  Jendral  Aulbertin  Walter  Sothern  Mallaby.  Peristiwa  yang  terjadi  berturut-turut  selama  tiga  hari  yang  terhitung  dari  27-29  Oktober  1945,  menewaskan  Jendral  Mallaby  dan  lebih  dari  2000  pasukan  tentara  Inggris.
Kematian  Jendral  Mallaby  pada  pertempuran  tersebut  membuat  pasukan  tentara  Inggris  murka,  hingga  berujung  pada  pertempuran  10 November  1945,  peristiwa  bersejarah  pertempuran  antara  Tentara  Indonesia  dengan  pasukan  Britania  Raya.

Mental  santri  kita.
Setelah  kita  bercermin  pada  sejarah  yang  begitu  membanggakan,  lalu  gerak  apa  yang  telah  dilakukan  oleh  kaum  yang  ngakunya  santri  pada  abad  ini.  Kita  seolah  telah  kehilangan  generasi-generasi  yang   mantap  dalam  berkeyakinan  dan  kritis  dalam  hihup  berbangsa.
Sebut  saja  peristiwa  politik  yang  terjadi  beberapa  bulan  yang  lalu.  Bagaimana  santri  kita  dengan  begitu  mudahnya  diprovokosi  dalam  tindakan-tindakan  yang  berbau  Sara  (suku,  agama,  ras,  dan  antargolongan).  Mental  kagetan  dalam  menanggapi  sesuatu  inilah  yang  menjadikan  santri  kita  seolah  kehilangan  ruhnya.
Ada  lagi  beberapa  waktu  yang  lalu,  isu  kembalinya  PKI  (partai  komunis  Indonesia)   sempat  menjadi  berita  hangat di  Negeri  ini.  Entah  dari  mana  dan  tujuannya  apa,  namun  nampaknya  isu  tersebut  juga  ditanggapi  secara  serius  oleh  pemangku  kekuasaan  kita.
Hal  ini  bisa  kita  lihat  seruan  yang  disampaikan  oleh  Presiden  Jokowi,  yang  menghimbau  seluruh  masyarakat  untuk  menonton  kembali  film  G30S-PKI.  Begitu  pula  dengan  Jendral  Gatot  Nurmantyo  yang  mewajibkan  seluruh  anggota  TNI  untuk  menyimak  penayangan  film  G30S-PKI.
Lalu  bagaimana  dengan  santri  kita?,  tentu  saja  santri-santri  kita  juga  ikut  berpartisipasi  dalam  pemutaran  film  tersebut.  Barang  tentu  mereka  memaknai  sebagai  penghormatan  kepada  kiai-kiai  mereka,  seperti  yang  kita  ketahui  bahwa  pembantaian  yang  dilakukan  oleh  PKI  dahulu,  juga  menyasar  pada  para  kiai,  terlebih  yang  memiliki  pondok  pesantren  besar.
Namun  ironisnya  hal  tersebut  tak  sepenuhnya  masuk  dalam  benak  dan  hati  para  santri,  tak  sedikit  pula  para  santri  yang  tidak  dapat  mengambil  faedah  apapun  dari  film  tersebut.  Kebanyakan  dari  mereka  hanya  memaknai  film  tersebut  sebagai  suatu  karya  dan  hanya  untuk  hiburan  semata,  sungguh  ini  menjadi  mental  yang  amat  menyesatkan.
Untuk  mengembalikan  ruh  dan  sukma  para  santri,  tentunya  harus  diimbangi  dengan  pemikiran  secara  dewasa.  Tidak  perlu  menggunakan  cara  yang  muluk-muluk,  cukup  diawali  dengan  langkah-langkah  kecil.  Misalnya  dengan  membiasakan  berdiskusi  dengan  berbagai  kalangan  atau  lapisan  masyarakat,  yang  tidak  terbatasi  oleh  cakupan  agama  tertentu.  Atau  pun  dengan  kegiatan-kegiatan  kreatif   keagamaan,  yang  dapat  memperkokohkan  persatuan  dan  kesatuan  kita  sebagai  bangsa  yang  beragama.  Kita  tunggu  saja  gerak  dan  perubahan  mental  santri  kita,  untuk  bangsa  dan  agama.  Semoga.

Singgih Aji Prasetyo.